Penanganan Psikososial terhadap Korban Bencana Alam, Jangan Mudah Melabeli Trauma!
Presiden Prabowo Subianto meninjau Posko Kesehatan Kodam I/Bukit Barisan yang terletak di Desa Batu Hula, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan pada Rabu, 31 Desember 2025-Sekretariat Presiden-
Pertama, pastikan ketersediaan air bersih dan makanan mencukupi. Sediakan tempat mengungsi yang aman. Serta fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) yang layak.
Kondisi lingkungan yang buruk, seperti tenda yang bocor atau lumpur tebal dapat meningkatkan stres pada korban bencana alam.
BACA JUGA:Mitigasi Gelombang Bencana Inkompetensi Kepemimpinan: Renungan Awal 2026
BACA JUGA:BSI Dukung Danantara Bangun Huntara di Aceh, Percepat Pemulihan Warga Pascabencana
Setelah itu, perhatikan kelompok yang rentan. Seperti ibu hamil, menyusui, lansia, serta penyandang disabilitas.
Sediakan tempat yang aman untuk melahirkan. Dan perhatikan sisi kesehatannya. Air bersih sangat penting. Terutama bagi remaja perempuan. Saat sedang menstruasi, lebih butuh banyak air di MCK.
Pastikan lingkungan pengungsian maupun jalan menuju MCK memiliki penerangan yang cukup. Setelah itu, aktifkan kembali kegiatan sosial. Seperti sekolah darurat, dapur umum, atau kegiatan seni yang bisa diikuti oleh anak-anak.

Piramida untuk penanganan korban pascabencana berdarakan World Health Organization. -- WHO
Kemudian, bantuan lainnya dilakukan dengan mengajarkan keterampilan baru. Khususnya keterampilan yang memiliki nilai jual kepada korban bencana alam.
BACA JUGA:Daftar Influencer Kena Teror Bangkai Ayam hingga Bom Molotov usai Soroti Bencana Sumatra
Misalnya, profesi petani. Setelah terjadi bencana, lingkungan sawah belum bisa digunakan untuk bercocok tanam. Pelatihan itu berguna untuk memberikan pekerjaan baru.
“Bagi keluarga atau orang terdekat, dukungan terbaik bukanlah memarahi anak yang murung atau melarang orang dewasa untuk cemas," ungkap Livia.
Ia memaparkan teknik sederhana yang dapat dilakukan. Salah satu contohnya adalah dengan melakukan butterfly hug sebagai self-help. "Gunanya untuk menenangkan diri ketika terjadi rasa panik,” ungkapnya.
Bantuan psikologis dari profesional baru bisa dilaksanakan setelah benar-benar mendesak. Umumnya 4-6 minggu usai kejadian bencana alam dengan gejala khusus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: