Venezuela, ketika Hukum Tunduk pada Minyak
ILUSTRASI Venezuela, ketika Hukum Tunduk pada Minyak.-Arya-Harian Disway-
BACA JUGA:8 Fakta Tentang Venezuela setelah Nicolas Maduro Ditangkap
BACA JUGA:Warga Diaspora Venezuela Rayakan Penangkapan Maduro, Thank You Trump!
Di titik itu, Monroe bertransformasi dari doktrin menjadi praktik keseharian. Negara-negara Amerika Latin hidup dalam ruang pengawasan permanen.
Ketika kebijakan dalam negeri sejalan dengan kepentingan Washington, kedaulatan dihormati. Sebaliknya, ketika berseberangan, kedaulatan menjadi lentur sehingga dapat ditekan, dinegosiasikan, bahkan dilanggar.
Itulah kedaulatan bersyarat versi Amerika Serikat. Penangkapan Presiden Nicolas Maduro menandai eskalasi baru: dari sanksi ekonomi ke sanksi politik, dari tekanan diplomatik ke operasi militer.
BACA JUGA:Serang Caracas, Donald Trump Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro
BACA JUGA:Presiden Venezuela Nicolas Maduro Tiba di New York, Diadili Senin
Hukum nasional AS diekspor sebagai hukum global, dan Amerika Latin kembali diposisikan sebagai objek penertiban.
Doktrin Monroe tidak perlu dihidupkan secara verbal karena dioperasikan secara nyata. Sejarah penting bukan untuk diratapi, melainkan karena kini berulang dengan lebih modern, lebih canggih, dan dengan konsekuensi nyata bagi tatanan internasional.
TRUMP, VENEZUELA, DAN IMPERIALISME VERSI ABAD KE-21
Venezuela bukan sekadar sasaran politik, melainkan juga target strategis energi global. Data OPEC menunjukkan, cadangan minyak Venezuela mencapai sekitar 300 miliar barel, terbesar di dunia, melampaui Arab Saudi dan Iran.
Fakta itu menjelaskan mengapa Venezuela terus berada di bawah sanksi ekonomi, tekanan politik, dan kini intervensi terbuka. Dalam dunia yang kembali rawan krisis energi, cadangan sebesar itu terlalu berharga untuk dibiarkan berada di tangan rezim yang tidak sejalan dengan kepentingan Washington.
BACA JUGA:Pasca Serangan AS, Venezuela Umumkan Pengerahan Semua Kekuatan Militer
BACA JUGA:Venezuela Tuduh AS Bombardir Pemukiman Warga Sipil Dalam Serangan Sabtu Dini Hari
Langkah Amerika Serikat mencerminkan kembalinya realisme politik. Moralitas internasional kalah telak oleh kalkulasi kekuasaan dan kepentingan nasional. Di bawah kepemimpinan Donald Trump, pendekatan itu tampil tanpa basa-basi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: