Inovasi Alat Deteksi TBC lewat Suara Batuk Karya Mahasiswa ITS, Pernah Raih Medali Emas PIMNAS 2025
Alat pendeteksi TBC dari suara batuk, inovasi tim TBCare yang beranggotakan para mahasiswa ITS.-@tbcare-Instagram
SURABAYA, HARIAN DISWAY - Tim TBCare dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menciptakan alat pendeteksi TBC melalui suara batuk.
Tim tersebut beranggotakan 5 mahasiswa: Nathania Cahya Romadhona, Nikolas Stanislaus Sanjaya, Faisal Azmi Sirajudin, Miskiyah, dan M. Rizki Dwi Kurnia Putra.
Mengolaborasikan ilmu Teknik Informatika dan Teknologi Kedokteran, Tim TBCare memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam menganalisis suara batuk.
Inovasi itu dilatarbelakangi oleh keadaan Indonesia yang masih menjadi negara dengan kasus TBC terbesar kedua di dunia.
BACA JUGA:111 RW di Surabaya Bebas TBC, Dinkes Lanjutkan Skrining dan Penemuan Kasus
BACA JUGA:Upaya Pemerintah Indonesia Mengatasi TBC dengan Target Eliminasi 2030

Tim TBCare menunjukkan medali emasnya yang diraih pada PIMNAS ke-38-Miskiyah untuk Harian Disway-
"Gejala paling awal TBC adalah batuk. Jadi, alat kami menganalisa suara batuk. Dari suara batuk tersebut dapat dideteksi apakah seseorang terkena TBC atau tidak. Sehingga dapat langsung ditangani oleh tenaga medis," ujar Miskiyah saat diwawancarai Harian Disway, 9 Januari 2026.
Sistem TBCare mengintegrasikan hardware berupa alat perekam suara dengan software yang akan mencatat data suara batuk.
Cara kerja sistem TBCare dimulai dari hardware yang merekam suara batuk. Kemudian data suara batuk tersebut dikirim ke server untuk diproses oleh model AI.
Mekanisme model itulah yang akan mengidentifikasi. Kemudian memberi jawaban apakah karakteristik suara batuk itu mengarah ke indikasi TBC atau bukan.
BACA JUGA:Canggihnya VertiCrab, Sistem Apartemen Berbasis IoT pada Budidaya Kepiting Karya Mahasiswa ITS
BACA JUGA:Housing Strategy, Inovasi Mahasiswa ITS Tekan Emisi Karbon di Gedung Perkantoran
Data suara batuk yang direkam itu otomatis tersimpan dalam database yang dapat dipantau oleh tenaga medis maupun pasien. Yakni melalui software yang mereka buat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: