Ajarkan Mitigasi Bencana kepada Anak-Anak lewat Permainan Kartu, Ada Kucing di Lho Awas! dan HIRO
Pengunjung anak-anak mengamati desain kartu permainan mitigasi bendana yang mengusung ikon lucu karya mahasiswa prodi Desain Grafis UNESA. - Ilmi Bening - Harian Disway
SURABAYA, HARIAN DISWAY - Mitigasi bencana masih sering luput dari perhatian. Dianggap berat dan sulit, topik penting itu malah tidak menyentuh anak-anak. Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan bencana.
Realita itu menggugah sekelompok mahasiswa dari Program Studi Desain Grafis Universitas Negeri Surabaya (Unesa) untuk berinovasi. Karena penting dan memang tidak bisa hanya sekali diberikan, materi mitigasi bencana mereka olah menjadi permainan kartu.
Dengan demikian, setiap kali memainkannya, anak-anak bisa kembali mengingat materi penting terkait mitigasi bencana. Utamanya, gempa bumi dan tanah longsor. Dua bencana geologi itu menjadi ide permainan kartu interaktif.
Berjudul Lho Awas!, permainan kartu itu dirancang khusus untuk anak-anak usia dini. Cara bermainnya pun sangat sederhana. Modal utamanya adalah membaca.

LHO AWAS! menjadi andalan Dewa Firmansyah dan Neysa Putri Agatha untuk mengedukasi anak-anak soal mitigasi bencana. -Ilmi Bening-Harian Disway
Sebelum mulai, anak-anak diajak membaca kartu bantuan bersama-sama. Tujuannya adalah agar mereka ingat tindakan apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi. Misalnya, berlindung di bawah meja atau menjauhi kaca.
Saat kartu bantuan yang berbentuk seperti kartu remi dibuka dan menunjukkan simbol tertentu (misalnya pintu atau ponsel), pemain harus berlomba mengambil ikon dari kartu akrilik secepat mungkin.
Pemain yang paling cepat mengumpulkan 10 kartu menjadi pemenangnya. “Permainannya sesimpel itu karena target audiens kita anak kecil. Kami ingin mereka paham tentang kebencanaan melalui interaksi yang menyenangkan," ujar Dewa Firmansyah, mahasiswa semester 7, kepada Harian Disway.
Lho Awas! dikolaborasikan Unesa dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya. Badan tersebut membutuhkan bantuan untuk menciptakan media edukasi efektif. Khususnya, bagi anak-anak usia dini.
BACA JUGA:Bersih Desa Berbuah Gelar, Trisakti Dikukuhkan sebagai Guru Besar Unesa
BACA JUGA:Unesa Kukuhkan 11 Guru Besar, Tingkatkan Misi Penelitian untuk Wujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi
“Pemilihan tema gempa bumi dan tanah longsor didasarkan pada data riset yang menunjukkan bahwa angka kejadiannya tinggi. Bencana tersebut mungkin jarang di Surabaya. Namun, pengaruhnya besar,” jelas Dewa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: