Ajarkan Mitigasi Bencana kepada Anak-Anak lewat Permainan Kartu, Ada Kucing di Lho Awas! dan HIRO

Ajarkan Mitigasi Bencana kepada Anak-Anak lewat Permainan Kartu, Ada Kucing di Lho Awas! dan HIRO

Pengunjung anak-anak mengamati desain kartu permainan mitigasi bendana yang mengusung ikon lucu karya mahasiswa prodi Desain Grafis UNESA. - Ilmi Bening - Harian Disway

BACA JUGA:Dies Natalis ke-61 Unesa, Tingkatkan Kerja Sama Internasional

BACA JUGA:Waduk Unesa Disulap Jadi Penangkal Banjir dan Destinasi Wisata

Berbeda dengan permainan kartu sebelumnya, HIRO dimainkan dengan cara mencocokkan pasangan kartu yang melibatkan interaksi aktif antara pemain dan fasilitator.

Setiap anak mendapatkan dua kartu bencana di awal. Lalu, anak-anak secara bergiliran membuka kartu bantuan di tengah. Fasilitator atau pembawa cerita akan meminta anak-anak untuk memasangkan kartu yang menggambarkan cara antisipasi bencana yang tepat.

Contohnya, jika ada gambar hujan badai dan petir, kartu pasangan yang cocok adalah ilustrasi menjauhi pohon. Fasilitator berperan penting untuk menjelaskan alasan tindakan tersebut harus dilakukan, sehingga proses belajar menjadi lebih hidup dan tidak membosankan.

Tantangan terbesar dalam pembuatan kartu HIRO adalah menyesuaikan desain kartu untuk anak-anak usia TK kemampuan membacanya bervariasi. Ada yang sudah lancar, ada yang masih terbata-bata.

BACA JUGA:Unesa Inklusif! Tumbuhkan Literasi Edupreneur Siswa Tunarungu di Gresik Lewat Damar Kurung

BACA JUGA:Puluhan Pesilat Beraksi Brutal di Depan Unesa, Begal dan Bacok Warga

"Tantangannya dalam membuat kartu ini adalah menjaga desainnya supaya tidak penuh dengan tulisan. Membuat anak-anak paham hanya dengan melihat gambarnya," ujar Neysa Putri Agatha, mahasiswa semester 7 yang menggarap HIRO.

Untuk memperkenalkan HIRO, Neysa dan timnya punya banyak cara. Salah satunya adalah mewarnai. Anak diajak mewarnai karakter HIRO sebagai bentuk pendekatan awal sebelum masuk ke materi edukasi mitigasi.

“Harapannya, kartu HIRO akan segera diproduksi secara masal oleh BPBD sebagai alat sosialisasi resmi di sekolah-sekolah untuk membangun generasi yang sadar bencana sejak dini,” ungkap Neysa.

BACA JUGA:Rembugan Buku Ludruk UNESA, Lestarikan Budaya Jawa lewat Karya Sindhunata

BACA JUGA:Pakar Kebijakan Publik Unesa Soroti MBG, Antara Harapan dan Realita!

Dengan permainan kartu tentang mitigasi bencana, Dewa dan Neysa yakin akan lahir generasi muda yang lebih tangguh dan tanggap terhadap bencana di Indonesia. 

Hal yang sama disampaikan Tsabita, salah seorang pengunjung. Menurut dia, desain permainan kartu itu menarik dan mudah dimengerti anak-anak. “Anak-anak akan bisa belajar dengan seru dan asyik,” tandasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: