Pandji (Matinya Toekang Kritik)

Pandji (Matinya Toekang Kritik)

ILUSTRASI Pandji (Matinya Toekang Kritik).-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

RADEN MAS SUHIKAYATNO, seorang tukang kritik kondang pada zamannya. Hidup di tiap zaman. Tapi, kini kesepian dan dilupakan orang. Satu-satunya teman hanyalah Bambang, pembantu setianya. 

Suhikayatno seorang ningrat. Ia hidup dalam dua pangung dramturgi, panggung depan dan panggung belakang. Di front stage, ia memainkan peran sebagai pejuang demokrasi. Namun, di back stage, di rumahnya –terutama di depan Bambang– ia berubah menjadi otoriter. Ia mempraktikkan profesinya sebagai tukang kritik kelas satu. Apa pun yang dikerjakan Bambang tidak akan lepas dari kritiknya.

Sebagai tukang kritik, Suhikayatno mengkritik setiap apa yang terjadi pada negara. Ia piawai memainkan perannya sebagai tukang kritik. Setiap sindiran ia balut dengan humor yang renyah. Ia menyindir nama dengan membuat pelesetan-pelesetan spontan yang mengundang gelak tawa.

BACA JUGA:Gus Ulil Sesalkan Pelaporan Pandji Pragiwaksono, Tegaskan Angkatan Muda NU Bukan Bagian PBNU

BACA JUGA:Pandji Pragiwaksono Ikut Kecam Kematian Affan Kurniawan

Dunia bergerak dengan cepat. Waktu pun berganti. Suhikayatno mulai kehilangan eksistensinya. Kritik makin murah, suaranya tak lagi didengar orang. Pada tahun-tahun ketika semua hal digantikan oleh teknologi, ia masih saja berusaha mencari-cari sesuatu untuk dikritik, tetapi sia-sia.

Si tukang kritik menyerah. Pada 3005, ia hidup dengan menggantungkan diri kepada teknologi. Ia dilayani robot hasil kloning si Bambang, yang meninggal pada 2022. Si tukang kritik merana dalam kesendirian.

Itu adalah sinopsis Matinya Toekang Kritik yang diperankan secara monolog oleh Butet Kartaredjasa pada 2006 dan 2009. Si tukang kritik yang lucu itu bebas mengkritik peristiwa apa saja yang terjadi di sekitarnya.

BACA JUGA: Pandji Bawa ‘Mens Rea’ ke Surabaya 26 April, Netizen Usul Roasting Banjir, Kotak Kosong, hingga RSUD Nama Istri Wali Kota

BACA JUGA:Polda Metro Jaya Terima Laporan Dugaan Penghasutan dan Penistaan Agama Terkait Stand Up Comedy Mens Rea

Butet memerankan si tukang kritik, sekaligus menjadi personifikasinya. Melalui penampilan monolognya yang legendaris, ia mengkritik B.J. Habibie dengan mengolok-olok logatnya yang cadel. Butet juga mengolok-olok Pak Harto dengan ”meniruken daripada” gaya bahasanya.

Ketika itu tidak ada yang memprotes Butet karena mengolok-olok logat Habibie. Tidak ada yang melaporkan Butet ke Bareskrim karena pertunjukannya dianggap membuat gaduh masyarakat.

Butet bebas berkreasi. Bebas memainkan profesinya sebagai tukang kritik. Di era awal reformasi para tukang kritik relatif aman. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak punya buzzer dan relawan bayaran. 

BACA JUGA:Mens Rea dan Keadilan: Menelisik Niat di Balik Kasus Kuota Tambahan Haji 2024

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: