6 Strategi Bagi Takjil yang Aman dan Berfaedah

6 Strategi Bagi Takjil yang Aman dan Berfaedah

Ramadan mengajarkan berbagi dengan cara yang benar. Takjil aman, tertib, dan tepat sasaran membuat niat baik makin bermakna.--instagram

Takjil yang baik bukan soal mahal atau ramai warna. Pilihlah kurma, air mineral, buah segar, atau makanan rumahan yang bersih.

Itu justru lebih aman bagi tubuh yang seharian berpuasa. Di situ letak faedahnya. Berbagi bukan hanya soal kenyang sesaat. Tapi juga soal menjaga kesehatan orang lain.

3. Mengatur Waktu agar Tidak Menimbulkan Kerumunan

Menjelang waktu Magrib, suasana sering kali memanas. Pengendara kendaraan bermotor ingin cepat sampai ke rumah. Mereka yang berbagi takjil ingin takjilnya cepat habis. Dua kepentingan bertemu di satu titik.

BACA JUGA:Masjid Ikon Surabaya (3): Pasar Rakyat Jambangan Surga Takjil Al Akbar

BACA JUGA:5 Takjil yang Cocok Dijual di Bulan Ramadan


Tradisi bagi takjil menjadi pemandangan yang sering dijumpai saat Ramadan.-Kabar Ngetren-pinterest

Jika tidak diatur, pembagian takjil justru menimbulkan kerumunan dan kepanikan kecil. Padahal dengan pengaturan waktu yang tepat dan distribusi tertib, semua bisa berjalan lebih tenang dan lancar. Ramadan mengajarkan ketenangan. Buka ketergesa-gesaan.

4. Menjadikan Bagi Takjil sebagai Pendidikan Sosial

Berbagi takjil sebetulnya bukan sekadar memberi makanan. Itu adalah pendidikan sosial yang nyata. Terutama bagi anak-anak dan remaja yang ikut terlibat.

Mereka belajar tentang empati. Tentang berbagi tanpa memilih. Tentang menghargai orang lain. Tapi semua itu hanya akan tersampaikan jika prosesnya tertib dan penuh tanggung jawab. Kebaikan yang tertata rapi akan meninggalkan kesan lebih dalam.

5. Menjaga Keikhlasan di Tengah Tren Konten

Di era media sosial, berbagi takjil sering tak lepas dari kamera. Foto dibidik. Video direkam. Lalu diunggah di media sosial.

BACA JUGA:Khasanah Ramadan (14): War Takjil Pemersatu

BACA JUGA:Toleransi Antaragama di Bulan Ramadan (3-Habis): War Takjil Bukti Keharmonisan Umat Beragama

Hal seperti itu tidak selalu salah. Tapi kadang, fokusnya bergeser. Orang tak lagi berpikir tentang manfaatnya. Melainkan tampilannya.

Anda sudah tahu, kebaikan tidak selalu harus ditunjukkan melalui konten. Justru yang paling bernilai adalah yang dilakukan diam-diam. Penerima dihormati. Pemberi tetap rendah hati.

6. Menyasar yang Benar-Benar Membutuhkan

Takjil akan lebih bermakna jika sampai kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Seperti pekerja lapangan, tukang becak, petugas kebersihan, dan musafir yang belum sempat pulang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: