Ketika Banjir 'Terjadi': Bahasa, Agen, dan Tanggung Jawab
ILUSTRASI Ketika Banjir 'Terjadi': Bahasa, Agen, dan Tanggung Jawab.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
BACA JUGA:Banjir dan Alih Fungsi Lahan
BACA JUGA:Banjir, Kode Pungli di Rutan KPK
Bahasa, dalam hal ini, merepresentasikan kenyataan sebagaimana adanya.
Konstruksi intransitif semacam itu kerap berkelindan dengan penggunaan kalimat pasif tanpa agen. Dalam bahasa Indonesia, pasif, terutama yang berawalan di- dan ter- memungkinkan peristiwa disajikan tanpa menyebut pelaku tindakan. Secara gramatikal, pasif tidak selalu menghapus agen.
Namun, dalam wacana media, agen tersebut sering ditiadakan sama sekali. Akibatnya, tindakan dan keputusan yang seharusnya memang dilakukan manusia direpresentasikan sebagai keadaan atau akibat semata.
Pasif, dalam hal ini, menjadi jembatan linguistik antara peristiwa yang ”terjadi” dan tanggung jawab yang tidak pernah disebutkan secara eksplisit.
Persoalan muncul ketika konstruksi intransitif dan pasif tanpa agen semacam itu digunakan secara dominan untuk menjelaskan peristiwa yang sesungguhnya tidak sepenuhnya alamiah.
Banjir lahir dari relasi kompleks antara alam dan manusia, yang sebenarnya ”di balik” peristiwa banjir itu terlibat keputusan dan tindakan manusia. Banjir bukan hanya soal curah hujan, melainkan juga berkaitan dengan tata kelola lingkungan, alih fungsi lahan, penggundulan hutan, penyempitan sungai, sistem drainase, dan perencanaan wilayah.
Meski begitu, ketika seluruh rangkain ”sebab” itu diringkas menjadi satu frasa netral ”terjadi banjir,” dimensi tanggung jawab manusia seolah larut dalam bahasa yang tampak objektif.
Di titik itulah konstruksi impersonal memainkan peran sentral. Konstruksi pasif tanpa agen, baik melalui bentuk intransitif maupun kalimat berawalan di- dan ter-, bukanlah pilihan gramatikal yang netral.
Secara sintaksis, kalimat tetap sah dan informatif. Namun, secara pragmatis, pelaku tindakan menghilang dari struktur bahasa. Bahasa bekerja sebagai mekanisme impersonality yang mengaburkan agen manusia.
Lebih jauh lagi, impersonality tidak hanya berdampak pada cara peristiwa dipahami, tetapi juga pada cara tanggung jawab didistribusikan secara sosial. Ketika agen tidak hadir dalam kalimat, relasi sebab-akibat menjadi kabur.
Bahasa tidak lagi mendorong pembaca untuk bertanya ”siapa melakukan apa”, tetapi hanya ”apa yang terjadi”. Dalam konteks ini, struktur gramatikal berfungsi sebagai hedging yang melindungi aktor-aktor tertentu dari sorotan publik sekaligus menormalkan penghapusan tanggung jawab.
Perbandingan lintas bahasa memberikan perspektif menarik atas persoalan itu. Dalam bahasa Jepang, terdapat kecenderungan kuat untuk membedakan secara tegas antara peristiwa alam dan tindakan beragensi manusia.
Fenomena alam diekspresikan dengan konstruksi intransitif, seperti jishin ga okita (gempa terjadi) atau ame ga futta (hujan turun). Namun, ketika peristiwa melibatkan kesalahan, kelalaian, atau tanggung jawab manusia, bahasa Jepang justru cenderung menggunakan konstruksi transitif dengan subjek yang eksplisit.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: