Ketika Banjir 'Terjadi': Bahasa, Agen, dan Tanggung Jawab
ILUSTRASI Ketika Banjir 'Terjadi': Bahasa, Agen, dan Tanggung Jawab.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
SETIAP musim hujan, berita banjir kembali memenuhi ruang publik. Kali ini banjir besar melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan menimbulkan kerusakan, kerugian, dan hilangnya ribuan nyawa.
Namun, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian, bukan hanya peristiwa bencana banjirnya, melainkan juga cara media memberitakannya. Bahasa pemberitaan mengalir begitu saja, tetapi justru melalui cara itulah pemahaman kita terhadap bencana perlahan dibentuk.
Dalam berbagai pernyataan dan pemberitaan, banjir hampir selalu hadir dalam diksi ”terjadi banjir” atau ”wilayah tergenang”. Ungkapan-ungkapan itu tampak terdengar wajar, netral, dan bahkan seolah objektif.
BACA JUGA:Banjir Sumatera dan Ujian Nyata Keuangan Berkelanjutan Indonesia
BACA JUGA:Banjir Bandang Sumatera, Alarm yang Terus Diabaikan
Akan tetapi, di balik kewajaran tersimpan persoalan yang jarang disadari. Bahasa yang kita gunakan bukan sekedar alat menyampaikan informasi, melainkan juga sarana pembingkai sebab, akibat, dan yang paling krusial adalah tanggung jawab.
Ketika banjir selalu ”terjadi”, pertanyaan tentang siapa berbuat apa dan siapa bertanggung jawab perlahan menghilang dari percakapan publik.
Dalam kajian linguistik, salah satu konsep penting untuk membaca fenomena itu adalah transitivitas. Transitivitas adalah cara bahasa merepresentasikan tindakan, pelaku, dan dampaknya.
Kalimat transitif menampilkan agen yang melakukan suatu tindakan terhadap sesuatu. Sementara itu, kalimat intransitif menggambarkan peristiwa seolah-olah berlangsung dengan sendirinya, tanpa pelaku yang jelas.
BACA JUGA:Memahami Kompleksitas Banjir di Sumatera
BACA JUGA:Ledekan untuk Wali Kota Bekasi saat Banjir
Pilihan antara transitif dan intransitif bukanlah persoalan teknis, melainkan keputusan diskursif yang memengaruhi bagaimana suatu peristiwa dipahami dan dinilai secara sosial.
Ungkapan seperti ”terjadi banjir” merupakan contoh konstruksi intransitif. Fokusnya berada sepenuhnya berada pada peristiwa, bukan pada rangkaian tindakan siapa atau keputusan apa yang melatarinya.
Dalam konteks fenomena alam murni, bentuk konstruksi semacam itu sepenuhnya wajar. Gempa memang terjadi, hujan memang turun. Tidak ada agen manusia yang dapat dimintai pertanggungjawabannya sehingga konstruksi intransitif menciptakan kesan bahwa banjir adalah peristiwa yang terjadi begitu saja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: