Tren Media dan Komunikasi 2026 (3): Media Online dan Teknologi Digital, Quo Vadis?
ILUSTRASI Tren Media dan Komunikasi 2026 (3): Media Online dan Teknologi Digital, Quo Vadis?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
SURVIVALITAS MEDIA
Media komunikasi bisa jadi akan terus berubah drastis dan cepat. Semua itu menuntut proses adaptasi yang juga lebih cepat. Daya tahan media online sejauh ini masih banyak yang masuk kategori rendah ketika algoritma berubah, ketika trafik turun, atau ketika biaya operasional meningkat.
Media-media online tersebut tidak mampu melayani, mengikat, dan membuat loyal para konsumennya. Banyak media online yang tidak mampu membangun loyalitas konsumennya. Mereka rata-rata tidak mampu membangun ceruk yang terarah dan jelas.
Banyak yang terjebak menjadi media supermarket dan akhirnya tidak memiliki daya tawar yang kuat. Akibatnya, konsumen tidak bisa menjadi aset yang bisa diandalkan oleh media.
Kertadipura (2026) mengingatkan media online agar berhenti mengejar keramaian semu dan mulai membangun komunitas yang terstruktur. Komunitas yang merasa memiliki media akan lebih loyal, lebih terlibat, dan lebih siap mendukung secara finansial.
Dalam konteks ini, media juga harus mampu membangun database sendiri yang mapan dan dapat diandalkan. Pemahaman tentang bagaimana mengemas pesan dan mendistribusikan juga penting untuk terus diperkuat.
Media, menurut Kertadipura, harus cerdas mengemas pesan sehingga bisa mengikat para konsumennya. Nilai dan idealisme tetap harus dijaga, tetapi disampaikan dengan format yang relevan dan kontekstual. Media yang menolak beradaptasi akan makin tenggelam, kemudian hilang dari peredaran.
PERUBAHAN INTERNAL DAN EKSTERNAL
Media online menghadapi perubahan –baik internal, seperti SDM dan pembiayaan, maupun eksternal, seperti perubahan teknologi– perilaku konsumen, dan regulasi. Kedua perubahan tersebut wajib untuk terus dimonitor, diamati, dan disiapkan mekanisme survivalitasnya agar media selalu relevan dengan perubahan zaman dan kepentingan konsumennya.
Di level internal, media harus mampu membangun sistem kelembagaan yang mumpuni. Di level eksternal, media juga harus bisa membangun dan menjaga kepercayaan publik. Dalam konteks itu, media harus memiliki values dan kredibilitas di era banjir informasi. Sebab, publik justru mencari media yang dapat dipercaya.
Media yang mampu menata internalnya dengan baik akan lebih mudah konsolidasi di dalam menghadapi tantangan dari eksternal. Demikian juga media yang mampu menyiapkan segala sesuatunya menghadapi eksternal akan lebih mudah membangun loyalitas dan kepercayaan.
Dengan demikian, media harus memahami audiensnya secara mendalam, apa yang mereka butuhkan, nilai apa yang mereka pegang, dan masalah apa yang ingin mereka selesaikan. Media harus terus membangun transparansi, konsistensi, dan kedekatan.
Dari sisi internal, Kartadipura (2026) mengemukakan bahwa manajemen media online 2026 harus mengadopsi pola kerja yang efisien dan adaptif. Tim tidak harus besar, tetapi harus solid dan multifungsi.
Setiap anggota tim perlu memahami visi media, etika kerja, dan tujuan jangka panjang. Disiplin manajemen, pengelolaan keuangan yang sehat, dan pengambilan keputusan berbasis data akan menentukan umur panjang sebuah media.
Media ke depan, menurut Kartadipura, harus terbuka dikelola dengan open mindset dan growth mindset. Sejauh ini audiens modern tidak menuntut media yang sempurna, tetapi media yang jujur dan bertanggung jawab.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: