Reset Indonesia
ILUSTRASI Reset Indonesia.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
COBA BAYANGKAN, sebuah rumah tua berusia 80 tahun yang mulai lapuk. Atapnya bocor, lantainya keropos. Banyak dindingnya yang retak. Tapi, karena tak ingin terlalu repot, akhirnya rumah itu hanya ditambal sana sini.
Hari ini tambal atap, besok lantai, begitu seterusnya, sampai akhirnya rumah itu roboh. Bukan karena badai, banjir, atau bencana alam, melainkan karena kelalaian si pemilik rumah sendiri.
Narasi itu adalah cuplikan dari tulisan Yusuf Priambodo dalam epilog buku Reset Indonesia (hal 416-417). Dalam tulisan Rumah yang Ingin Saya Bangun, ia mengangankan Indonesia masa depan yang nyaman dan aman.
BACA JUGA:#Reset Indonesia, Becermin ke Arah Pembangunan Bangsa
Rumah yang digadang-gadang bakal menjadi rumah besar bagi generasi emas 2045 itu digambarkan sebagai bangunan yang tidak layak huni. Kalau rumah itu sekadar ditambal sana sini, rumah tersebut akan roboh dan generasi emas akan menjadi generasi cemas dan generasi lemas.
Buku Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia Baru (terbit pertama September 2025) ditulis empat jurnalis beda generasi: boomer, milenial, dan gen Z. Mereka adalah Farid Gaban, Dhandy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu.
Reset Indonesia menjadi viral karena publik menjadi kepo setelah aparat membubarkan acara launching dan diskusi buku di beberapa daerah. Seperti biasa, aparat malah memberikan promosi gratis bagi buku itu.
BACA JUGA:Diskusi Buku Reset Indonesia Kupas Isu Ketimpangan Sosial sampai Kerusakan Alam
BACA JUGA:Antre #Reset Indonesia Edisi Hemat di Pos Bloc Surabaya, Nyalakan Harapan untuk Indonesia
Selama ini tidak pernah ada buku best seller di Indonesia yang bisa cetak puluhan ribu. Bisa laku ribuan eksemplar saja sudah bagus. Umumnya malah hanya cetak seribuan. Tradisi masyarakat Indonesia bukan tradisi membaca, melainkan tradisi menonton.
Sebab itulah, film Agak Laen ditonton 10 juta orang, menjadi rekor film Indonesia sepanjang zaman. Dan, film Alas Roban sudah ditonton satu juta orang pada Januari ini. Bangsa Indonesia memang ”agak laen”.
Buku Reset Indonesia mungkin terbantu promosi gratis oleh larangan aparat. Tapi, kelihatannya tidak akan menjadi rekor buku terlaris di Indonesia. Bisa laku ribuan sudah bagus. Itu pun edisi bajakannya sudah banyak beredar di toko online.
BACA JUGA:Diskusi Buku Reset Indonesia Dibubarkan di Madiun, Mahfud MD: Aparat Melanggar Hukum
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: