Antre #Reset Indonesia Edisi Hemat di Pos Bloc Surabaya, Nyalakan Harapan untuk Indonesia
SELURUH PESERTA Lapak Baca & Bedah Buku #Reset Indonesia di Pos Bloc Surabaya menyalakan lilin sebagai simbol harapan pada Sabtu, 27 Desember 2025.-Tirtha Nirwana Sidik-Harian Disway
SURABAYA, HARIAN DISWAY – Lapak Baca dan Bedah Buku #Reset Indonesia mampir ke Surabaya. Dalam rangkaian roadshow-nya ke-50 kota, Farid Gaban bersama Dandhy Laksono dan Yusuf Priambodo menyapa publik Kota Pahlawan pada Sabtu malam, 27 Desember 2025.
Hujan turun kian deras menjelang jam bedah buku yang tertulis pukul 18.00 WIB. Namun, semangat Arek-Arek Suroboyo tak mudah dipatahkan cuaca. Mereka terus berdatangan ke Pos Bloc yang terletak di kawasan Kota Tua. Sebagian basah kuyup, sebagian lainnya sibuk melipat payung.
Meski dibayangi pembatalan acara di Madiun, gelaran Lapak Baca dan Bedah Buku #Reset Indonesia di Surabaya berlangsung meriah. Bahkan, lapak-lapak baca di atas alas sederhana yang digelar sejak pukul 16.00 WIB pun ramai dikerumuni pembaca.
“Buku ini boleh dipinjam. Dibawa ke tempat Mbaknya duduk, dibaca selama acara, boleh. Nanti dikembalikan lagi ke sini,” ujar Bie yang menunggui lapak BiBaBuku (Biar Baca Buku) sore itu.
BACA JUGA:Diskusi Buku Reset Indonesia Dibubarkan di Madiun, Mahfud MD: Aparat Melanggar Hukum
BACA JUGA:Dandhy Laksono dan 3 Pakar Hukum di Dirty Vote Dilaporkan Polisi, Tuduhan Apa?

ANTREAN pembeli buku #Reset Indonesia di Pos Bloc Surabaya relatif tertib dan rapi pada Sabtu, 27 Desember 2025.-Tirtha Nirwana Sidik-Harian Disway
Mata Argya Nirwasita yang tertarik membaca Semua Ikan di Langit karangan Ziggy Zeszyazeoviennazabrizkie pun langsung berbinar saat mendengar ucapan Bie.
"Ini tidak dicatat dulu peminjamnya," tanya mahasiswi asal Jogja itu. "Tidak perlu. Kami percaya karma," sahut Bie.
Seiring menderasnya hujan, bertambah banyak pulalah peserta yang berdatangan. Sebelum Farid, Dandhy, dan Yusuf menceritakan pengalaman mereka, panitia mempersilakan peserta untuk membeli buku #Reset Indonesia Edisi Hemat di sisi kiri ruangan.
“Ini kertasnya buram gitu. Bukan yang putih. Jadi, harganya lebih murah. Makanya tulisannya edisi hemat,” kata Ery Wisanggeni yang ikut beratur dalam antrean.
BACA JUGA:Elon Musk dan Realitas Kesenjangan di Indonesia
Meskipun jumlah buku yang disediakan terbatas, peserta tidak sampai berebut. Antrean tetap rapi tanpa desak-desakan. Rata-rata, peserta membeli satu buku. Namun, ada pula yang tiga atau empat karena dititipi teman.
“Ini di luar ekspektasi. Pesertanya sampai 600 orang lebih dan masih tambah terus,” kata Miftah Faridl, salah seorang panitia.
Setelah antrean buku habis dan peserta kembali duduk di tempat masing-masing, Faiza Zahra yang malam itu menjadi moderator langsung memanggil para penulis #Reset Indonesia satu per satu. Kecuali Benaya Harobu, tiga penulis lainnya hadir langsung di PosBloc.
Bergantian, Yusuf, Farid, dan Dandhy menceritakan kisah di balik penulisan buku. Tayangan video dari rangkaian perjalanan mereka keliling Indonesia juga disuguhkan di layar lebar.
BACA JUGA:Santri dan Sinema Bertemu di Pos Bloc: Festival Film Santri 2025 Resmi Dibuka, Tayangkan 142 Film
BACA JUGA:Kolaborasi Pos Bloc & D-NET: Kantor Pos Kebonrojo Menjadi Surga Kreativitas di Surabaya

DANDHY LAKSONO (berdiri, kanan) membagikan rangkaian kisah di balik penulisan buku #Reset Indonesia yang semula hendak diberi judul #Restart Indonesia.-Tirtha Nirwana Sidik-Harian Disway
“Sangat sayang rasanya jika pengalaman kami keliling Indonesia dan melihat langsung masalah-masalah yang selama ini banyak dikritisi di media, tidak kami bukukan,” kata Yusuf. Ia bersyukur karena publik Surabaya antusias menyambut #Reset Indonesia.
Dalam paparannya, Farid dan Dandhy menegaskan bahwa ketimpangan dan masalah-masalah sosial ekonomi di wilayah yang mereka datangi dalam Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, Ekspedisi Indonesia Biru, dan Ekspedisi Indonesia Baru erat kaitannya dengan politik.
“Apa pun rezimnya dan siapa pun pemimpinnya, aliran duitnya tetap sama, dari batu bara,” ujar Dhandy. Ia lalu mengajak para peserta menyaksikan cuplikan film dokumenter tentang dampak buruk tambang batu bara. Tayangan itu sempat membuat beberapa peserta berkaca-kaca dan meneteskan air mata.
Sebelum menutup acara dengan foto bersama dan penandatanganan buku, para penulis mengajak seluruh peserta menyalakan lilin yang dibagikan panitia saat memasuki Pos Bloc.
BACA JUGA:Bedah Buku Pater Fritz Meko: Kembara Pikiran, Catatan Harian Seorang Imam Katolik
Bersamaan dengan itu, semua orang yang memadati ruangan menyalakan juga harapan mereka akan Indonesia yang lebih baik demi generasi selanjutnya. Karena sesungguhnya, dengan tata kelola yang baik dan logika yang benar, tidak perlu ada yang menderita dan berkekurangan di Indonesia.
Sebagaimana yang Gede Robi dari Navicula sampaikan dalam narasi Pulau Plastik, bahwasanya kekayaan Indonesia ini cukup untuk menjawab kebutuhan semua orang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: