Setiap Hari Korupsi, Inikah Negeri yang Digadang Jadi Indonesia Emas 2045?: Refleksi Akhir Tahun 2025

Setiap Hari Korupsi, Inikah Negeri yang Digadang Jadi Indonesia Emas 2045?: Refleksi Akhir Tahun 2025

ILUSTRASI Setiap Hari Korupsi, Inikah Negeri yang Digadang Jadi Indonesia Emas 2045?: Refleksi Akhir Tahun 2025.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

SAYA MARAH. Bukan karena KPK menangkap pejabat. Justru sebaliknya, saya marah karena korupsi tak pernah berhenti ditangkap. Artinya, ia juga tak pernah berhenti terjadi.

Di ujung tahun ini, saat negeri masih basah oleh air mata korban banjir bandang di Aceh dan Sumatera Utara, kita justru membaca berita: tiga OTT KPK dalam satu hari. Rekor. Sensasional. Mengundang tepuk tangan, sekaligus rasa muak.

Di satu sisi, saya bersyukur. Sebab, itu berarti KPK masih bekerja. Masih ada yang berani menyalakan lampu di ruang gelap kekuasaan. Namun, di sisi lain, ada pertanyaan yang lebih menusuk: mengapa negeri ini tak pernah benar-benar tobat?

BACA JUGA:KPK, Keppres, dan Pertarungan Narasi Antikorupsi

BACA JUGA:Dari Kejahatan Korupsi ke Kebaikan Pendidikan

Korupsi di Indonesia sudah seperti hujan di bulan Desember. Datang tiap hari. Kadang gerimis, kadang badai. Kita hafal polanya. Pejabat ditangkap. Uang ditampilkan di meja. Konferensi pers. Media ramai. Netizen ribut. 

Lalu, tidak lama lagi bakal pelan-pelan menjadi sunyi. Sampai hujan berikutnya turun. Yang berubah hanya nama. Polanya sama.

Ironisnya, itu terjadi ketika kita sedang rajin mengucapkan mantra besar, yaitu: Indonesia Emas 2045. Bonus demografi. Ekonomi lima besar dunia. SDM unggul. Negara maju. Semua terdengar indah. Semua tampak meyakinkan –di atas kertas.

BACA JUGA:Gerakan Semesta Pemuda Melawan Korupsi

BACA JUGA:Menyapu Korupsi Moral: Nurani, Ucapan Pejabat, dan Luka Rakyat

Nmaun, saya jadi bertanya dalam hati: emas yang mana? Emas peradaban atau emas slogan? Sebab, faktanya, setiap hari kita disuguhi berita korupsi. Bukan kasus kecil. Bukan recehan. Namun, melibatkan kepala daerah, aparat hukum, pejabat strategis. 

Bahkan, mereka yang seharusnya menjadi penjaga keadilan. Kalau penjaganya ikut mencuri, siapa yang tersisa untuk dipercaya?

Korupsi bukan sekadar soal uang negara. Korupsi adalah kejahatan terhadap waktu. Ia mencuri masa depan. Dana yang seharusnya menjadi tanggul banjir berubah jadi vila. Anggaran sekolah menjadi rekening pribadi. Dana kesehatan menjelma jam tangan mewah.

BACA JUGA:Korupsi dan Formalisme Beragama: Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: