Pembunuh Gadis di Kendal Sempat Dinyatakan Gila: Bebas, lalu Divonis Mati
ILUSTRASI Pembunuh Gadis di Kendal Sempat Dinyatakan Gila: Bebas, lalu Divonis Mati.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Selama 20 bulan sejak pembunuhan Baladiva sampai jatuhnya vonis, Gunawan pasti berharap cemas, antara bebas hukuman atau dihukum. Sebab, ia sempat bebas di shelter dinsos. Akhirnya ia dihukum mati.
Kejahatan Gunawan sangat keji. Ia memaksakan kehendak, lalu menghilangkan nyawa Baladiva. Kekejamannya menyayat hati keluarga korban.
Dikutip dari The Guardian, Sabtu, 2 Maret 2024, berjudul If you kill someone in your sleep, are you a murderer? karya Matthew Blake, diungkapkan pembunuhan yang pelakunya bebas hukuman.
Minggu, 24 Mei 1987, di Toronto, Kanada. Seorang pekerja elektronik berusia 23 tahun bernama Kenneth Parks tertidur di sofa di rumahnya sambil menonton TV Saturday Night Live. Waktu menunjuk pukul 1.30.
Saat ia membuka mata, di luar rumah masih tampak gelap. Namun, Kenneth berdiri di rumah yang berbeda. Ia memegang pisau di tangannya. Ibu mertuanya sekarat di depannya. Ia tidak ingat apa yang baru saja terjadi atau bagaimana ia menempuh jarak 14 mil dari rumahnya ke rumah mertuanya. Yang ia lihat hanyalah darah di bajunya.
Dalam keadaan syok, Kenneth melarikan diri dan mengemudi ke kantor polisi terdekat dan tiba sambil mengucapkan kalimat yang mengerikan: ”Kurasa aku telah membunuh beberapa orang.”
Peristiwa malam itu akan menyita perhatian para kriminolog selama beberapa dekade.
Namun, faktanya tidak dapat disangkal. Ayah mertua Kenneth dicekik hingga pingsan, tapi selamat, lolos dari maut.
Ibu mertuanya ditikam lima kali, menderita pendarahan subarachnoid akibat patah tulang tengkorak dan meninggal di tempat kejadian.
Kenneth Parks diinterogasi polisi sampai tujuh kali, tetapi ceritanya tetap konsisten. Ia tidak ingat apa yang terjadi. Ia tidak punya motif untuk membunuh mertuanya. Satu saat ia tertidur, saat berikutnya ia melakukan pembunuhan.
Namun, itu bukanlah bagian paling mengejutkan dari cerita tersebut. Terlepas dari semua bukti yang menunjukkan bahwa ia melakukan kejahatan tersebut, Kenneth Parks dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan pembunuhan dan percobaan pembunuhan.
Pembelaannya adalah berjalan dalam tidur, atau automatisme non-gila sebagai bagian dari dugaan episode somnambulisme.
Kenneth bebas hukum. Ia kembali menjalani kehidupan normal dan kemudian memiliki enam anak.
Hampir dua dekade kemudian, pada tahun 2006, Kenneth Parks kembali menghiasi halaman depan surat kabar. Kali ini ia mengajukan tawaran menjadi wali sekolah. Tidak ayal, tawarannya memicu penentangan lokal dan segera dibatalkan. Warga Kanada mengingat masa 19 tahun silam, saat Kenneth membunuh mertuanya.
Ilustrasi peristiwa di Kanada itu bukan bandingan kasus pembunuhan Baladiva. Kasus di Kanada pembunuhan tanpa motif, tanpa peristiwa pendahuluan. Motif di kasus Baladiva jelas. Juga, didahului cekcok, beberapa hari sebelum pembunuhan. Pelakunya sudah layak dihukum mati. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: