Menguatkan Tes Kompetensi Akademik sebagai Assessment for Learning
ILUSTRASI Menguatkan Tes Kompetensi Akademik sebagai Assessment for Learning.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Merujuk pada efektivitas assessment for learning, guru dan sekolah memiliki peran strategis dalam memastikan hasil TKA dimanfaatkan secara bermakna. Caranya sederhana, diawali dengan menganalisis hasil TKA secara pedagogis sehingga data asesmen benar-benar mencerminkan kebutuhan belajar murid.
Temuan tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam perencanaan pembelajaran dan asesmen kelas agar proses belajar lebih adaptif dan responsif. Secara kelembagaan, sekolah perlu membangun budaya refleksi dan perbaikan berkelanjutan berbasis data, menjadikan asesmen sebagai sarana peningkatan mutu.
Hasil TKA perlu dikomunikasikan secara edukatif kepada murid dan orang tua sehingga asesmen dipahami sebagai alat pengembangan belajar. Jika skema itu dijalankan dengan baik, TKA menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran yang mendukung prinsip continuous improvement.
IMPLIKASI PENGUATAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN
Penguatan TKA sebagai assessment for learning perlu diawali dengan kebijakan yang menempatkan hasil TKA sebagai alat pemetaan dan perbaikan mutu pembelajaran.
Dengan posisi itu, TKA berfungsi memberikan umpan balik yang bermakna bagi murid, guru, dan satuan pendidikan untuk memahami capaian kompetensi serta area spesifik yang perlu ditingkatkan.
Agar fungsi tersebut berjalan optimal, kebijakan juga perlu mendorong literasi asesmen bagi guru dan kepala sekolah. Pemahaman yang memadai tentang tujuan, prinsip, dan pemanfaatan hasil TKA akan membantu pendidik menggunakan data asesmen secara reflektif dalam merancang pembelajaran yang lebih adaptif dan berorientasi pada kebutuhan belajar siswa.
Selanjutnya, penguatan TKA sebagai assessment for learning juga harus didukung oleh penyediaan teknologi untuk analisis dan visualisasi data hasil TKA. Dukungan itu memungkinkan hasil asesmen disajikan secara mudah dipahami sehingga dapat dimanfaatkan secara cepat dan tepat sebagai dasar pengambilan keputusan pembelajaran di tingkat kelas, sekolah, maupun kebijakan.
Penguatan tersebut perlu secara tegas menghindari praktik teaching to the test yang menyempitkan makna belajar. TKA harus mendorong pembelajaran yang bermakna, berorientasi pada pengembangan kompetensi dan penalaran, bukan sekadar latihan soal yang berfokus pada pencapaian skor.
Dengan demikian, TKA benar-benar berperan sebagai asesmen yang mendukung proses belajar, bukannya membatasi tujuan pendidikan itu sendiri. Pendekatan itu sejalan dengan semangat transformasi asesmen dalam kebijakan pendidikan nasional melalui pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful.
TKA memiliki potensi besar untuk berperan sebagai assessment for learning apabila dimaknai dan dimanfaatkan secara tepat. Dengan menempatkan TKA sebagai alat diagnosis, refleksi, dan perbaikan pembelajaran, asesmen tidak lagi menjadi sumber tekanan, tetapi menjadi sarana pembelajaran yang jujur, gembira, dan bermakna.
Transformasi asesmen itu juga makin menegaskan bahwa asesmen sejatinya adalah bagian dari proses belajar itu sendiri. (*)
*) Moch. Abduh adalah staf ahli menteri pendidikan dasar dan menengah bidang teknologi pendidikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: