Kematian Tokoh Publik: Pengaburan Simpati dan Penguatan Spekulasi

Kematian Tokoh Publik: Pengaburan Simpati dan Penguatan Spekulasi

ILUSTRASI Kematian Tokoh Publik: Pengaburan Simpati dan Penguatan Spekulasi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

KEMATIAN tokoh publik, khususnya yang ada di dalam media sosial, tak lagi sekadar kabar duka yang menuntut simpati masyarakat. Informasi sejenis berubah menjadi komoditas wacana yang diperebutkan, diperdebatkan, dan yang paling ekstrem: justru dieksploitasi oleh publik digital (netizen) yang merasa memiliki ”hak” untuk menafsirkan tragedi orang lain.

Dalam beberapa waktu terakhir, media sosial dipenuhi perdebatan aktif terkait kematian sejumlah tokoh publik. Mulai Lula Laflah, influencer media sosial; Arya Daru, diplomat sekaligus pejabat publik; hingga Charlie Kirk, aktivis politik Amerika Serikat.

Ketiganya menjadi contoh bagaimana peristiwa berita duka dan kematian tidak lagi berdiri sebagai fakta personal yang harus dihormati, tetapi sebagai topik segar untuk bahan konflik opini.

BACA JUGA:10 Momen Kebersamaan Titiek Puspa dengan Artis dan Tokoh Publik

Alih-alih memberikan simpati kolektif, respons publik digital (netizen) justru terfragmentasi dalam berbagai kubu. Ada kubu yang menunjukkan belasungkawa tulus, ada yang bersikap eksploratif dengan membedah kronologi secara obsesif dan tidak berperasaan, bahkan ada dan tak sedikit yang secara terbuka merayakan kematian tersebut dengan cercaan dan ejekan. 

Lebih jauh, sebagian publik digital (netizen) mulai membangun teori-teori spekulatif, termasuk dugaan medis, meskipun hasil autopsi medis ataupun keterangan resmi dari pihak berwajib belum pernah dirilis ke publik.

Dalam peristiwa kematian Charlie Kirk, ada perbedaan pendapat di media sosial yang cukup tajam. Pada satu sisi, ia dianggap sebagai representasi kebebasan berpendapat, khususnya di bidang politik, terutama bagi kelompok yang menganggap ia sebagai simbol. 

Dalam kerangka itu, kematiannya dianggap sebagai cara untuk membungkam kekritisan dan keberaniannya. Sebaliknya, pada satu sisi lain, publik digital menyatakan bahwa Charlie Kirk sering membuat pernyataan yang provokatif dan agresif, terutama yang menyasar pelajar dan mahasiswa. 

Lain halnya pada peristiwa kematian Arya Daru, perhatian publik digital lebih mengarah pada eksplorasi motif kematian. Laporan resmi bukanlah satu-satunya sumber informasi yang berkembang dan dipercaya, yang lebih berkembang pesat adalah banyaknya spekulasi, mulai dugaan bunuh diri, tekanan psikologis, hingga keyakinan bahwa ada manipulasi atau keterlibatan pihak tertentu. 

Menariknya, publik digital (netizen) secara aktif membangun alur cerita alternatif yang mirip dengan fan fiction selama penyelidikan. Hal itu adalah kumpulan hipotesis yang dibuat secara kolektif untuk ”menebak” apa yang sebenarnya terjadi. 

Banyak dari spekulasi itu yang bahkan secara terbuka menentang laporan media utama dan pernyataan resmi dari kepolisian dan otoritas medis. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa sebagian publik digital tidak lagi hanya konsumen informasi, tetapi juga produsen cerita. 

Mereka bahkan menjadi detektif yang percaya dapat menafsirkan bukti seperti rekaman CCTV, aktivitas ponsel, dan detail teknis lainnya. 

Yang ketiga adalah peristiwa kematian Lula Lahfah yang dianggap mengagetkan. Mengingat, dia masih sangat aktif dalam berbagai kegiatan publik sekaligus interaksi di media sosial. Kehadiran digital yang intens tersebut membentuk persepsi bahwa Lula berada dalam kondisi yang baik-baik saja dan masih produktif sehingga kematiannya dipahami sebagai peristiwa yang tak terduga dan di luar ekspektasi kolektif. 

Dalam konteks ini, keterkejutan publik tidak hanya berkaitan dengan kehilangan, tetapi juga dengan runtuhnya asumsi bahwa aktivitas dan visibilitas di ruang digital merepresentasikan kondisi personal yang stabil dan aman. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: