Belajaraya 2026, Kenalkan Prinsip Pengasuhan CINTA demi Mencintai dengan Lebih Baik
Belajaraya 2026 di Surabaya menghadirkan sesi Rangkul dengan memperkenalkan lima prinsip pengasuhan dalam keluarga. - Ilmi Bening - Harian Disway
“T” adalah "tidak takut salah". Setiap keluarga, terutama orang tua, harus terus belajar dari kesalahan. Keluarga harus menjadi tempat yang memberikan kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya untuk perbaikan bersama.
“A” artinya "asyik bermain bersama". Setiap hubungan membutuhkan keseruan, kehangatan, kedekatan, dan kebersamaan. Humor dan bermain bersama adalah bagian terpenting yang akan membuat proses pengasuhan menjadi menyenangkan.
“Kami dari Keluarga Kita bergerak di pendidikan keluarga belajarnya itu pengasuhan. Kami percaya bahwa pengasuhan itu urusan bersama. Jadi bapak-bapak bisa juga main bersama dengan anak lewat permainan Bapak dan Kurir Cilik di sana. Lalu, ibu-ibu mengobrol bersama di sini,” kata Henny kepada peserta Belajaraya.
BACA JUGA:Peran Orang Tua dalam Pengawasan Digital dan Kejahatan Siber pada Anak
BACA JUGA:Aisah Dahlan di SAIM: PR Picu Ketegangan Orang Tua dan Anak
Para ibu yang hadir dalam Belajaraya menceritakan berbagai permasalahan yang ada di rumah. Mulai dari problema dengan suami sampai anak.
Peserta lain dipersilakan memberikan saran dan berdiskusi agar dapat membantu menemukan jalan keluar dari masalah sehari-hari yang dialami keluarga.
“Kurikulum paling dasar itu dimulai dari memancing kesadaran orang tua bahwa ini pengasuhan bersama, yakni ayah dan ibu. Orang yang punya insting mengasuh itu perempuan. Sebab itu, laki-laki lebih banyak latihan. Akhirnya, dibuatlah bermain bersama bapak,” imbuhnya.
Nur Fajirah Hanum, fasilitator Rangkul Jombang, menambahkan bahwa ada tiga kurikulum dasar lainnya yang juga penting. Yaitu, hubungan reflektif, disiplin positif, dan belajar efektif.
BACA JUGA:Ketika Anak-Anak Usia Dini Kian Lekat pada Gawai, Kendali Ada pada Orang Tua
BACA JUGA:Fenomena Sharenting, Jejak Digital Anak dan Batas Etis Orang Tua
Refleksi sangat penting untuk menemukan tujuan dan nilai yang tepat dalam hubungan keluarga. Penting bagi setiap anggota keluarga memiliki pegangan nilai yang kuat.
Itulah yang menjadi dasar utama bagi mereka untuk tumbuh menjadi pribadi yang mandiri ke depannya. “Keluarga punya nilai kejujuran, kemandirian, dan spiritualitas. Pilih yang ingin dijadikan patokan utama,” terang Hanum.
Jika pilihannya adalah spiritualitas, maka keluarga harus menentukan tujuannya. Dari situ, bisa terlihat nilai-nilai yang perlu diperbaiki atau dikembangkan dalam keluarga tersebut.
“Permasalahan keluarga itu memang kompleks dan rumit. Itulah mengapa kita butuh pandangan orang lain dan ilmu baru untuk menambah insight,” ucap Puji Rahayu, peserta dari Menganti.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: