Problem Insan Akademik Kampus dan Solusinya Pasca Terbitnya Permendiktisaintek Nomor 52 Tahun 2025

Problem Insan Akademik Kampus dan Solusinya Pasca Terbitnya Permendiktisaintek Nomor 52 Tahun 2025

ILUSTRASI Problem Insan Akademik Kampus dan Solusinya Pasca Terbitnya Permendiktisaintek Nomor 52 Tahun 2025.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Ketiga, memberikan perhatian yang membuat dosen merasa asupannya terjamin seperti program makan bergizi gratis (MBG), mendapat uang transportasi yang cukup sehingga datang ke kampus penuh dengan bahagia dan ceria. 

Realitas yang demikian tampaknya masih dalam bayangan bagi sebagian dosen. Oleh karena itu, ketika membaca Permendiktisaintek Nomor 52 Tahun 2025, mereka makin kaget dan dadanya berdebar-debar karena kegelisahan selama ini belum terobati, ditambah lagi dengan tuntutan yang makin tinggi.

Keempat, dosen perlu mendapat perlakuan yang dapat meningkatkan rasa percaya diri (self efficacy) dan membahagiakan sebagai dosen melalui program-program kampus, seperti apresiasi dari pimpinan. Sekecil apa pun prestasi yang diraih dosen, misalnya dosen mengajar dengan baik, meneliti dengan baik, mengabdi dengan baik, dan seterusnya, penting diberikan apresiasi. 

Di sisi lain, apresiasi non-akademik dapat diberikan dalam berbagai bentuk. Misalnya, ucapan selamat ulang tahun seperti yang dilakukan beberapa Badan usaha milik negara (BUMN) seperti bank kepada nasabahnya. 

Sapaan kekeluargaan itu dapat meningkatkan imun kebahagiaan karena merasa diperhatikan. Meskipun sekadar ucapan selamat, kalau itu menjadi budaya kampus, rasanya akan beda. 

Apalagi, bagi dosen yang berada pada kelompok yang masih gelisah dan galau, itu akan membuat mereka merasa tidak sendiri atau ditinggalkan. Apalagi, apresiasi atas kinerja dosen diberikan dalam bentuk sertifikat penghargaan dan sejenisnya. Itu akan membuat dosen kian bahagia. 

Dampak penghargaan memberikan perasaan yang luar biasa, dapat memecah keheningan pikiran dosen di tengah tuntutan pekerjaan.

Untuk dapat melakukan itu semua, apabila terkait material, pihak kampus memerlukan modal finansial yang memadai. Lalu, dari mana kampus memerolehnya? Bagi kampus negeri, dapat dianggarkan dana yang diperoleh dari pemerintah (APBN) dan sumber lainnya yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. 

Lalu, bagi kampus swasta, mereka harus mencari sumber-sumber pendapatan dari berbagai usaha yang dimiliki, bukan dengan menaikkan uang kuliah tunggal (UKT). Di sinilah tantangan bagi pengelola kampus swasta untuk dapat menyejahterakan para dosen sebagai apresiasi atas dedikasinya.

Sedangkan untuk memberikan apresiasi non-material, tidak diperlukan modal sama sekali. Modalnya cukup kemauan (good will) pimpinan yang dihadirkan untuk mengubah kegelisahan menjadi kebahagiaan, menyelenggarakan event bersama secara berkala antara pimpinan dan para dosen dan tenaga kependidikan sesekali memang diperlukan anggaran untuk konsumsi, door prize, hadiah, dan sejenisnya. 

Kegiatan bersama itu dapat memecah kebekuan dan kegelisahan yang dialami dosen. Sebab, di situ ada kebersamaan yang dipertemukan dalam suasana yang membahagiakan meskipun kesejahteraan yang diharapkan belum sesuai ekspektasinya. 

Akan tetapi, kalau hal demikian menjadi budaya kampus, itu akan dapat menurunkan rasa kegelisahan, bahkan yang muncul imun kebahagiaan karena otak kirinya yang selama ini selalu serius mikir pekerjaan diimbangi dengan refreshing yang membuat otak kanan dosen berfungsi dengan baik.

MENJAGA KESEIMBANGAN

Sementara itu, dosen yang masuk kategori kelompok bahagia diberi pemantik sedikit sudah jalan sendiri, apa yang diharapkan telah diperoleh dan mudah dicapai, karier mentereng, dengan sendirinya penghasilan dosen sesuai yang diharapkan mengikuti. 

Meski demikian, potret yang demikian tidak boleh menjadi kesenjangan dengan dosen yang masuk kelompok gelisah dan galau. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: