Kenalkan Teknik Pijat-Tekan dan Meja Putar Keramik dalam Pameran Jam Kos00ng Aksera
BERHADAPAN dengan Shinta Bellinda, Aquita Valentina (kiri) menyimak lalu praktik berkreasi dengan tanah liat dalam lokakarya keramik Terakota dalam Pameran Jam Kos00ng Aksera Minggu, 8 Februari 2026.-Mirna Maulani Firnanda-Harian Disway
Ada jiwa seni dalam diri setiap orang. Lewat lokakarya keramik Terakota dalam pameran Jam Kos00ng, Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera) berusaha memunculkannya.
HUJAN disertai angin mengguyur Gedung Khrisna Mustajab di Dukung Kupang, Surabaya, pada Minggu sore, 8 Februari 2026. Satu per satu, peserta lokakarya berdatangan. Perhatian mereka tertuju pada tanah liat yang terletak di atas meja.
Hari itu, tujuan mereka datang ke venue pameran itu memang tanah liat. Bersama Aksera, mereka berharap bisa membuat kreasi dari tanah liat. “Saya suka nyoba hal-hal baru. Nah, yang ini belum pernah. Jadinya tertarik nih buat nyoba,” kata Dini Alifina, salah seorang peserta.
Terbungkus plastik tipis bening, tanah liat tertata rapi di atas meja. Di sebelahnya, tersedia alat-alat yang digunakan dalam praktik berkreasi dengan tanah liat sore itu.
BACA JUGA:Aksera Gelar Pameran Seni Bertajuk Jam Kos00ng, Gaungkan Kebebasan Senyap
BACA JUGA:Diskusi Biennale Drawing Aksera Menggali Sejarah dan Makna Gambaran
Semua bahan dan alat disediakan oleh pihak pameran. Termasuk, tatakan rata yang menjadi alas untuk masing-masing peserta.
“Hari ini, kami akan praktik membuat keramik dengan teknik pijat-tekan atau pinching dan teknik putar atau throwing,” kata Muhammad Arifin alias Londho yang sore itu bertugas sebagai pendamping ahli.

PESERTA LOKAKARYA berkreasi dengan tanah liat di bawah pengawasan para pendamping ahli pada Minggu, 8 Februari 2026. Mereka belajar teknik pinching dan throwing.-Mirna Maulani Firnanda-Harian Disway
Sebelum menjajal teknik throwing, para peserta diajak berpraktik teknik pijat-tekan yang relatif mudah teknisnya. Dini yang awalnya hanya memperhatikan, kemudian mulai menyentuh tanah liat di hadapannya dengan lembut dan hati-hati. Dalam hitungan menit, dia sudah asyik memijat-mijat dan menekan-nekan tanah liat.
Perempuan berjilbab itu membentuk mangkuk kecil. Setelah merasa bentuk mangkuknya sempurna, dia kemudian menambahkan ornamen di sekitarnya. Dia menciptakan beberapa bentuk hiasan.
BACA JUGA:Biennale Drawing Aksera, Sajikan Seni Drawing Kontemporer
BACA JUGA:ARTSUBS Gelar Workshop Seni Keramik, Ajak Peserta Nikmati Proses Berkesenian Tanah Liat
Selama proses itu, Londho mendampingi. Sesekali, ia mengingatkan para peserta untuk membasahi tanah liat yang sedang dibentuk, agar tidak pecah-pecah. Air berfungsi melunakkan kembali tanah liat yang mengering dan retak-retak karena terlalu lama dibiarkan.
Dengan membasahinya, tanah liat akan kembali halus dan bisa dibentuk dengan mudah. “Referensi bentuknya bisa dilihat dari Google atau Pinterest,” katanya kepada para peserta tentang ornamen tambahan.
Teknik pinching terdiri atas empat langkah utama. Yakni, centering (pemusatan tanah), opening (membuka), pulling (menarik), dan shaping (membentuk). Semuanya dilakukan dengan tangan. Hasil akhirnya, biasanya berupa cangkir, mangkuk, atau vas.
Setelah itu, Londho mengajak Dini dan peserta lainnya ke meja putar. Ia mengajarkan trik untuk berkarya dengan meja putar. Para peserta dipersilakan mencoba menginjak pedal untuk memutar meja.
BACA JUGA:Bertandang ke Ceramic Queen, Studio Keramik Jenny Lee
BACA JUGA:Universitas Tebuka Surabaya Melirik Tradisi Gerabah Desa Gampangsejati
Sebelum mulai berkarya dengan tanah liat, para peserta wajib membasahi tangan. Setelah itu, sebongkah tanah liat diletakkan di atas meja putar.
Sore itu, selain Dini, ada Jonathan dan Aquita yang menjajal teknik throwing. Perlahan, mereka membentuk pola dasar mangkuk. Tidak terlalu lebar, tidak terlalu pipih juga. Keduanya terlihat fokus dan serius. Sekilas, teknik itu lebih sulit ketimbang teknik yang pertama.
Sama seperti Dini, Aquita juga baru pertama ikut lokakarya keramik. Setelah berhasil membentuk mangkuk, dia membentuk hiasan-hiasan kecil untuk memperindah karyanya. Para peserta menciptakan berbagai bentuk.
Ada yang kepala bebek, ada yang SpongeBob. Para peserta memang dibebaskan untuk mengekspresikan kreativitas masing-masing.
BACA JUGA:Unair Gelar Pengabdian Masyarakat di Desa Mlaten, Dampingi Perajin Gerabah Bisa Ekspor
BACA JUGA:Membuat Pot dan Vas Tembikar, Alternatif Healing Buat yang Sering Overthinking

PERALATAN yang digunakan dalam lokakarya keramik Terakota dan contoh keramik yang sudah jadi. Peserta bebas mencari inspirasi bentuk dari internet.-Mirna Maulani Firnanda-Harian Disway
Dua jam setelahnya, tanah liat yang semula hanyalah bongkahan di atas meja sudah berubah menjadi aneka bentuk. Gelas, piring ceper wadah cincin, dan mangkuk berhias SpongeBob.
“Ini seru sih. Ya harapannya kegiatan kayak gini bisa diperbanyak” kata Aquita kepada Harian Disway. Demi lokakarya itu, perempuan 27 tahun tersebut rela berangkat dari Pandaan ke Surabaya.
Setelah proses membentuk keramik selesai, tugas selanjutnya ada pada panitia pameran. Mereka harus memastikan karya para peserta itu kering benar sebelum dibakar. Menurut Londho, proses pengeringan keramik butuh waktu tujuh hari.
Nantinya, setelah proses tuntas, pihak penyelenggara akan mengembalikan keramik-keramik bikinan peserta. “Nanti bisa diambil di pameran,” ujar Londho. Pameran Jam Kos00ng berlangsung dari 22 Januari 2026 sampai 11 Maret 2026 dan gratis untuk umum.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: