Filantropisme dan Komitmen Kemanusiaan di Negeri Rawan Bencana
ILUSTRASI Filantropisme dan Komitmen Kemanusiaan di Negeri Rawan Bencana.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Beberapa daerah juga diindikasi rawan gempa bumi. Hal itu berarti bencana alam berpotensi terjadi di sejumlah daerah. Pada konteks itulah, komitmen sesama anak bangsa terhadap nilai-nilai kemanusiaan benar-benar diuji.
Dengan tanpa pamrih, berbagai elemen masyarakat menyumbangkan sebagian hartanya untuk meringankan saudaranya yang tertimpa musibah. Bukan hanya logistik, bantuan juga diberikan dalam bentuk kesehatan dan pendampingan psikologi terhadap korban bencana.
Kita juga menyaksikan relawan dari kelompok anak muda berada di jalanan untuk mengumpulkan sumbangan dari pengguna jalan. Reaksi spontan dan tulus dari berbagai elemen masyarakat menunjukkan betapa nilai-nilai filantropi telah membudaya di negeri ini.
Yang menarik, bencana alam juga menjadi media bagi kelompok elite dan aktivis partai politik untuk meraih simpati rakyat.
Mereka langsung turun gunung untuk menunjukkan empatinya. Bahkan, kita menyaksikan sebagian aktivis partai politik hilir mudik membawa bendera dan aksesori partai untuk sekedar menunjukkan komitmen kemanusiaan kepada rakyat.
Sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam dan luar negeri juga tidak mau ketinggalan. Mereka berbaur dengan korban bencana untuk melakukan aksi-aksi kemanusiaan.
KOMITMEN KEMANUSIAAN
Karena bencana alam merupakan tragedi kemanusiaan, jelas dibutuhkan tindakan yang konkret untuk membantu korban. Untuk sementara waktu, biarkan elite politik menjadikan bencana alam sebagai alat mengkritisi kebijakan pemerintah sekaligus meraih simpati rakyat.
Biarkan juga ahli agama dengan logika teologisnya menjelaskan keterkaitan bencana dengan perbuatan dosa besar manusia. Begitu juga ilmuan yang menghabiskan waktu untuk meneliti pemicu terjadinya bencana.
Kini yang mendesak dilakukan adalah menumbuhkan nilai-nilai filantropi dalam bentuk nyata. Kita tunjukkan bahwa nilai-nilai kedermawanan tetap tumbuh di negeri tercinta. Dalam Al-Qur’an, kita diingatkan ajaran yang menyentuh hati nurani umat manusia.
Allah SWT berfirman, ”barangsiapa yang membunuh seseorang, bukan karena orang itu telah membunuh orang lain, juga bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia membunuh manusia seluruhnya. Sebaliknya, dikatakan bahwa barangsiapa yang memelihara kehidupan seseorang, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya”. (Q.S. Al-Maidah: 32).
Firman Allah itu dapat menjadi rujukan teologis untuk mewujudkan nilai-nilai filantropi.
Di negeri rawan bencana ini nilai-nilai filantropi sangat penting untuk membantu korban tanpa melihat latar belakang agama, budaya, dan etnisnya.
Kita harus meyakini bahwa nilai-nilai kedermawanan dan kesukarelaan untuk menolong sesama merupakan aktualisasi ajaran agama yang menekankan pentingnya memberi (religious gift).
Semoga nilai-nilai filantropi terus tumbuh hingga menjadi budaya di negeri yang rawan bencana alam. Bahkan, bukan hanya bencana alam, negeri yang sangat majemuk ini sejatinya juga rawan terhadap terjadinya bencana kemanusiaan. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: