Antisipasi Krisis Energi Global, Pemerintah Bangun Storage Minyak Raksasa di Sumatra

Antisipasi Krisis Energi Global, Pemerintah Bangun Storage Minyak Raksasa di Sumatra

Menteri ESDM Bahli Lahadalia memastikan pemerintah bangun storage minyak di Sumatra.-Dok. Kementerian ESDM-

Eskalasi konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat-Israel dan Iran mulai bikin cemas pasar energi dunia. Harga minyak melonjak. Panic buying BBM terjadi di sejumlah negara. Sementara pemerintah Indonesia sendiri tengah menyiapkan APBN dan strategi cadangan energi untuk meredam dampaknya.

—--

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu gejolak pasar energi global. Perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran berdampak langsung pada kenaikan harga minyak dunia. Otomatis memunculkan kekhawatiran gangguan pasokan energi internasional.

Dari sejumlah laporan, minyak mentah Brent naik USD1,72 atau sekitar 2,1 persen menjadi USD83,12 per barel pada perdagangan Kamis, 5 Maret 2026. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat USD1,95 atau sekitar 2,6 persen ke level USD76,61 per barel.

Artinya, kini pasar minyak semakin ketat. Terutama setelah pemerintah Tiongkok meminta sejumlah kilang besar menghentikan ekspor diesel dan bensin. Gangguan pasokan pun mulai terjadi di Asia. 

BACA JUGA:Israel-AS Menyerang Dulu, lalu Klaim Self-defense

BACA JUGA:Trauma Vietnam di Tanah Iran

Dua kilang minyak di Tiongkok dan India dilaporkan terpaksa menghentikan sebagian operasinya. Tentu akibat ketergantungan tinggi pada impor minyak dari kawasan Timur Tengah.

Tekanan pasokan tersebut turut mendorong kontrak berjangka diesel Eropa melonjak ke level tertinggi sejak Oktober 2022, mencapai sekitar USD1.130.

Yang juga mulai mencemaskan, kenaikan harga energi dan ancaman gangguan pasokan memicu fenomena panic buying bahan bakar di beberapa negara. Di Korea Selatan, laporan media Yonhap menyebut kekhawatiran terhadap konflik Timur Tengah semakin menekan ekonomi domestik.

Situasi serupa terjadi di Australia. Di kota Perth, ribuan pengendara dilaporkan mengantre panjang di SPBU untuk mengisi bahan bakar. Perdana Menteri Australia Barat Roger Cook bahkan meminta masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan dan menegaskan pasokan energi masih tersedia.

Fenomena panic buying juga dilaporkan di Inggris. Khususnya di kota-kota besar seperti London, Manchester, dan Liverpool. Sejumlah warga harus menunggu lebih dari satu jam untuk mendapatkan bahan bakar. 

BACA JUGA:Iran Marah AS Tenggelamkan Kapal Fregat IRIS Dena: Anda Akan Menyesal!

BACA JUGA:Perang Timur Tengah Berlanjut: Iran dan Israel Lanjutkan Serangan di Hari Kamis

Di Indonesia pun demikian. Antrean kendaraan di sejumlah SPBU meningkat dalam dua hari terakhir di Lamongan dan Aceh. Mayoritas antrean didominasi kendaraan roda dua, sementara mobil pribadi juga terlihat lebih ramai dibanding hari biasa.

Kekhawatiran global tersebut merupakan efek dari langkah Iran menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: