Prestasi ITS di SEM Asia Pacific and Middle East 2026 (1): Antasena Kantongi Tiket Kompetisi 2027
TIM ANTASENA foto bersama Falcon 3.0 setelah rangkaian Shell Eco-marathon (SEM) Asia Pacific and Middle East 2026 di Qatar pada Januari lalu.--Dokumentasi Humas Antasena ITS
Antasena meraih juara dalam dua kategori inovasi mobil hemat energi berbasis hydrogen fuel cell di Shell Eco-marathon (SEM) Asia Pacific and Middle East 2026 di Qatar. Hadiahnya adalah mengikuti SEM Global Championship 2027.
FAUZIL ADHIM mengaku tak percaya timnya mendapatkan juara satu Technical Innovation Award dalam ajang SEM Asia Pacific and Middle East 2026 di Qatar. Kompetisi itu berlangsung pada 21 hingga 25 Januari 2026.
"Waktu di pengumuman off-track, yang bikin kami tidak menyangka ya itu. Dapat juara satu di Technical Innovation Award," ungkap Azil, sapaan akrab Fauzil Adhim.
Harian Disway berkunjung ke Markas Antasena di Departemen Teknik Material dan Metalurgi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), pada 30 Januari 2026. Selain Azil, ada Richard Wijaya Santoso dan Damaila Fayza Larashati yang ikut menemui.
BACA JUGA:Cerita Pengembangan Inovasi ITS yang Berujung pada Penghargaan Kelas Internasional
BACA JUGA:Bikin Bangga Indonesia, Nogogeni ITS Team Sabet Juara 2 Shell Eco-marathon Qatar 2026
Richard adalah technical manager dalam tim. Sementara, Damai berperan sebagai non-technical manager. Azil yang didapuk sebagai general manager sekaligus driver banyak bercerita tentang pengalaman timnya di Qatar.
Saat awarding, Antasena mendapatkan dua prestasi. Yakni, juara 1 kategori Technical Innovation Award dan juara 2 kategori Prototype Hydrogen Fuel Cell.

FALCON 3.0 diinspeksi sebelum melaju di lintasan Lusail International Circuit, Qatar, pada 21-25 Januari 2026.--Dokumentasi Humas Antasena ITS
Prestasi gemilang itu sekaligus mengantarkan mereka menjadi satu dari empat delegasi terbaik wilayah Asia Pasifik dan Timur Tengah. Antasena berhak melaju ke ajang bergengsi SEM Global Championship 2027.
Tiket menuju kejuaraan dunia itu didasarkan pada akumulasi poin. Berdasarkan regulasi, nilai efisiensi di lintasan (on-track) memiliki bobot 70 persen, sedangkan penilaian teknis (off-track) menyumbang 30 persen.
BACA JUGA:Mahasiswa ITS Ciptakan Inovasi Kapal Ropax Pintar, Sabet Juara 1 Kontes Kapal Indonesia 2025
BACA JUGA:ITSprovement Jadi Ajang Inovasi Tendik ITS Rancang Teknologi Serbaguna di Kampus
Menurut Azil, pencapaian itu merupakan buah dari riset ilmiah dan kerja keras selama hampir satu tahun. Prestasi itu diraih berkat Falcon 3.0, mobil hemat energi berbasis hidrogen versi terbaru.
Falcon 3.0 benar-benar dibikin dari nol. Tim memutuskan untuk membangun kendaraan baru, tidak sekadar memodifikasinya dari bodi lama. Mobil dengan nomor lambung 203 itu punya rancang bangun pipih dan bagian depan yang runcing serta ramping.
Secara keseluruhan, Falcon 3.0 menyerupai mata ombak yang dapat membelah hambatan udara secara ekstrem. Dengan ground clearance yang sangat rendah, mobil kebanggaan Antasena itu seolah menyatu dengan lintasan. Model itu meminimalisir hambatan udara di bawah kolong kendaraan.
Bodi mobil didominasi warna putih. Ada motif batik Parang berwarna ungu-putih pada bagian samping. Antasena sengaja mengusung identitas budaya Indonesia di panggung internasional.
BACA JUGA:Dies Natalis ke-65, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Gelar Tennovex dan Pamerkan RISSA
BACA JUGA:Motor Brebet Usai Isi Pertalite, Berikut Penjelasan Pakar ITS!

FAUZIL ADHIM alias Azil bersiap melaju dengan Falcon 3.0 dalam SEM Asia Pacific and Middle East 2026 di Qatar.--Dokumentasi Humas Antasena ITS
Dari segi mekanis, tim melakukan pembaruan pada sistem transmisi belakang dan geometri kaki-kaki depan (vehicle dynamics). Selain itu, tim juga memperkuat sistem elektrikal dengan menambahkan sensor suhu, kecepatan, dan kelembapan.
Inovasi yang paling menonjol adalah penerapan internal humidifier. Teknologi itu berfungsi untuk menjaga kelembapan membran pada fuel cell untuk menstabilkan reaksi kimia hidrogen menjadi listrik.
Hasilnya, efisiensi mobil melonjak drastis dari angka 300-an pada kompetisi sebelumnya menjadi 498 kilometer per liter.
"Di bengkel, kami fokus mengerjakan proyek mobil, mengolah data, dan persiapan test drive sebelum hari-H," kenang Azil. Mereka bahkan merelakan waktu libur semester dan tetap melanjutkan pengembangan riset pada hari libur.
BACA JUGA:Kolaborasi Pemkot Surabaya dan ITS, Pakai GBT Uji Nogogeni
BACA JUGA:ITS Ciptakan Lampu Lamusa, Bantu Nelayan Lamongan Naikkan Hasil Tangkapan
"Kami saling menyemangati satu sama lain kalau kami bisa," tegas Richard.
Ketika proses perakitan dan uji coba tuntas, ujian lain datang dalam bentuk keberangkatan. Tim Antasena nyaris batal bertanding gara-gara perubahan jadwal penerbangan dari maskapai. "Berkat bantuan banyak pihak, masalahnya teratasi dengan maskapai alternatif," terang Damai.
Tiba di Doha, tim langsung menuju lokasi kompetisi untuk pemeriksaan teknis kendaraan. Falcon 3.0 lolos inspeksi pada hari kedua. Begitu penilaian on-track dimulai, beban harapan berpindah ke pundak Azil sebagai driver.
Ia harus mengendalikan kemudi dalam posisi berbaring selama 35 menit di dalam kokpit yang sempit. "Kepala harus tetap fokus ke depan dengan banyak tombol di sistem steering. Seperti setir mobil F1," ungkap Azil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: