Diskusi Buku Eunoia Menuju Seekor Bajingan di Mobil Slavee: Manusia Munafik yang Ditempa Kemiskinan
WHANI DARMAWAN membahas Eunoia Menuju Seekor Bajingan di Mobil Slavee dalam diskusi buku di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada Selasa, 10 Maret 2026. Zuhdi Zang (kiri) menjadi pembedah.--Dokumentasi Panitia Bedah Buku USD
Dengan pisau psikoanalisis, Eunoia Menuju Seekor Bajingan di Mobil Slavee dibedah. Dramatic reading mengawali diskusi serius tapi santai di Selasar Aula Gedung Sasana Mitraswara, Pasca Sarjana, Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, pada Selasa, 10 Maret 2026.
JOGJA masih sumuk (gerah, Red) saat diskusi buku karya Whani Darmawan itu dimulai. Selasar aula kampus pascasarjana USD pada pukul 15.00 WIB itu makin panas saat orang-orang berdatangan untuk menemui Eunoia Menuju Seekor Bajingan di Mobil Slavee.
"Hei, wajahmu... Hei... Kita.... Hei! Bukankah kamu… maksudku... kita ada banyak kesamaan. Coba lihat!" ujar Slavee.
"Tidak! Kita tidak sama. Kita beda!" sahut Bajingan.
BACA JUGA:Ngabubookread ala Surabaya Book Party: Silent Reading, Lalu Bahas Buku dalam Kelompok
BACA JUGA:Solo Project Imelda Bie Tularkan Kegemaran Membaca lewat bibabuku: Pokoknya Baca Saja Dulu
Percakapan Bajingan (alter ego) dan Slavee (ego) itu menggaung di lokasi diskusi buku. Peserta yang berada di dalam ruangan dibuat terdiam menyaksikan percakapan yang seolah-olah meloncat keluar dari kepala mereka masing-masing itu.
Dalam hati (dan angan-angan), manusia sering mempertentangkan nyata dan fiksi, benar dan salah, sama dan beda, serta banyak lagi lainnya. Pertentangan seperti itu tak pernah ada habisnya.
Maka, yang lebih penting dibahas (dan dipetik) adalah nilainya. Hikmah dan nilai-nilai dari pertentangan yang lantas membentuk kepribadian menjadi hal yang jauh lebih penting ketimbang pertentangan itu sendiri.
Yogi Swara Manitis Aji dan Ahmad Dipoyono, pemeran Bajingan dan Slavee, menyajikan dialog alter ego dan ego itu dengan sangat apik. Dialog menjadi makin hidup dengan kehadiran tokoh Reta yang diwujudkan lewat suara Indah Ayu Setyawati.

SAMPUL BUKU Euonia Menuju Seekor Bajingan di Mobil Slavee yang Whani Darmawan tulis bersama 10 lainnya.--Dokumentasi Panitia Bedah Buku USD
BACA JUGA:Ulasan Buku Mawar, Bukan Nama Sebenarnya karangan Dian Purnomo: Ironi Perempuan di Negeri Patriarki
BACA JUGA:Cerita di Balik Pemilihan Tokoh Kucing Nami dan Mango dalam Buku Fantasia, Ada Campur Tangan Cat Lovers
Whani yang juga berada di dalam ruangan yang sama tampak menikmati dramatic reading tersebut. Dialog-dialog yang bermunculan dalam intonasi kesal, geram, marah, celelekan (tidak serius, Red) itu mewakili pikiran-pikiran manusia.
Dalam bukunya, pemeran Cak Darsam dalam film Bumi Manusia (2019), itu memang menuliskan isi kepala manusia. Ia memunculkan peristiwa-peristiwa yang berjejalan di dalam pikirannya melalui benak para tokohnya.
Sama seperti realita hari-hari ini, kompleksitas permasalahan dalam buku ke-13 seniman Jogja itu adalah kemiskinan. Problem itu menempa Slavee menjadi manusia munafik. Kemunafikan itu bisa dilihat dari inkonsistensi sikapnya. Ia menghadirkan kesan "hidup baru" yang tak ada kaitannya dengan kehidupan lamanya yang menyedihkan.
Sayangnya, kehidupan baru yang jauh lebih indah dan clean itu Slavee ciptakan dari "hasil jual diri" alias menjadi gigolo.
BACA JUGA:Peluncuran Buku Fantasia Ajak Anak Berimajinasi Lewat 41 Cerita dan Kurangi Main Gawai
BACA JUGA:Refleksi Buku Aurelie Moeremans, Broken Strings-Fragments of a Stolen Youth: Benang-Benang yang Putus, Luka yang Menyambung
"Buku ini menjadi penting karena berhasil memotret kemiskinan lebih dari sekadar persoalan perut, melainkan problema struktur kapitalistik yang melahirkan ironi kehidupan," ungkap Zuhdi Zang, mahasiswa S3 Kajian Budaya USD. Sore itu, ia mengulas Eunoia Menuju Seekor Bajingan di Mobil Slavee dari sudut pandang psikoanalisis.
Dalam kesempatan yang sama, narasumber lainnya, Indro Suprobo memberikan sentuhan religius dalam ulasannya. Direktur Tonggak Pustaka itu teringat pada dialog Nabi Musa dengan Yahwe (Tuhan) dalam Kitab Suci Perjanjian Lama.
"Kisah Musa itu mungkin tidak pernah terjadi secara harafiah. Tetapi dialog itu mencerminkan realitas yang konkret tentang bagaimana seseorang menemukan panggilan hidupnya," paparnya.
Sebagai penulis, Whani menerima seluruh masukan, sorotan, bahkan kritik terhadap bukunya. Bagaimanapun, tanggapan pembaca adalah apresiasi terhadap karyanya.

DRAMATIC READING mengawali bedah buku yang berlangsung di Selasar Aula Gedung Sasana Mitraswara, Pasca Sarjana, Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta.--Dokumentasi Panitia Bedah Buku USD
BACA JUGA:Diskusi Buku Reset Indonesia Kupas Isu Ketimpangan Sosial sampai Kerusakan Alam
BACA JUGA:30 Penulis Kenang Sosok Pahlawan Literasi dalam Buku A Tribute to Oei Hiem Hwie
Kendati yang ia tuliskan adalah naskah drama, selaras dengan dasar keahlian dan pengalamannya sebagai aktor, penerima Anugerah Kebudayaan DIY 2025 kategori Upakarya Budaya berharap karyanya bisa dinikmati banyak orang.
"Saya tidak ingin buku naskah ini hanya berputar di kalangan seniman atau orang-orang teater saja. Saya ingin buku ini terbang bebas sejauh-jauhnya menembus semua kalangan," ungkapnya.
Eunoia Menuju Seekor Bajingan di Mobil Slavee adalah bunga rampai dari sebuah lakon yang ada dalam buku itu. Judul lakon yang Whani tulis adalah Seekor Bajingan di Mobil Slavee. Tak ingin hanya menyodorkan naskah kepada pembaca, ia pun berkolaborasi dengan sepuluh penulis lintas bidang ilmu untuk menyempurnakan karyanya.
Para penulis yang diajak berkolaborasi adalah Arif Nurcahyo (psikologi), Kris Budiman (semiologi), Cahyaningrum Dewojati (teori sastra), Wahyu Novianto (dramaturgi), dan Elyandra Widharta (penyutradaraan).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: