Kelas Baru NU
MALAM Anugerah Lembaga Perguruan Tinggi NU (LPTNU) 2026.-Arif Afandi untuk Harian Disway.-
INI jelas bukan NU yang dulu. Itulah yang muncul dalam benak saya saat menyaksikan malam anugerah yang diselenggarakan di auditorium Universitas NU Surabaya (Unusa). Para profesor, doktor, dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi NU berkumpul.
Malam itu memang sedang digelar Malam Anugerah Lembaga Perguruan Tinggi NU (LPTNU) 2026. Itu adalah ajang untuk memberikan apresiasi terhadap berbagai karya akademik yang dilahirkan para akademisi warga nahdliyin. Yang hadir dari seluruh Indonesia.
Acaranya berlangsung tepat waktu. Di gedung yang megah. Gedung yang didesain seperti studio bioskop. Dengan LED screen besar yang permanen terpajang di belakang panggung. Ya, seperti umumnya acara penganugerahan dalam banyak hal berlangsung.
BACA JUGA:Tongkat NU
BACA JUGA:NU Baru
LPTNU adalah lembaga khusus yang mengurusi perguruan tinggi milik ormas Islam terbesar di Indonesia itu. Di bawah lembaga tersebut, sekarang sudah ada 18 UNU. Unusa salah satu yang terbesar dan paling maju.
Malam anugerah itu untuk mengapresiasi karya riset dari berbagai akademisi NU. Dalam berbagai kategori. Penghargaan juga diberikan untuk peneliti di luar perguruan tinggi milik NU. Jadi, bukan mereka yang berasal dari UNU.
Misalnya, Prof Adi Utarini dari UGM untuk kategori bidang kedokteran. Bidang sains terapan untuk Prof Irwandi Jaswir dari International Islamic University, Malaysia. Dan, bidang teknologi untuk Ir Tri Mumpuni Wiyanto, pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (Ibeka).
Bagi saya, ini peristiwa istimewa. Ini menandai perubahan besar. Mengubah wajah NU yang dulu dikenal sebagai organisasi tradisional berbasis pesantren. Ormas Islam yang dikenal menjadi pabriknya ahli agama. Bukan ahli riset dan ilmu pengetahuan umum.
BACA JUGA:Tali Jagat NU
BACA JUGA:NU Adalah Asosiasi Ulama
Bahkan, sampai muncul stigma yang berkembang sejak lama. Jika ada orang pintar bergelar doktor dan profesor, mereka akan dianggap sebagai orang Muhammadiyah. Ormas keagamaan yang memang berkembang di perkotaan.
Stigma itu nyata. Saya mengalaminya. Saat saya diterima menjadi mahasiswa UGM, orang tua saya yang NU tulen otomatis cemas. Takut saya menjadi Muhammadiyah. Itu terungkap setelah sekian tahun saya kuliah di kota ini.
Ceritanya begini. Ketika saya berangkat ke Yogyakarta, ibu saya menitipkan sepucuk surat ke sepupunya yang saat itu menjadi ketua PWNU DIY. Namanya Sofwan Helmy. Saya tidak tahu isi surat tersebut. Baru tahu setelah ibu saya meninggal dunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: