Sarah Mullally, Mantan Bidan, Perempuan Pertama yang Pimpin Gereja Anglikan Dunia

Sarah Mullally, Mantan Bidan, Perempuan Pertama yang Pimpin Gereja Anglikan Dunia

USKUP AGUNG CANTERBURY Sarah Mullally mengukir sejarah dengan menjadi perempuan pertama yang memimpin Gereja Anglikan.-Jordan Pettitt/AP Photo-Al Jazeera

CANTERBURY, HARIAN DISWAY - Nama Sarah Mullally mencatat sejarah baru dalam Gereja Anglikan. Mantan perawat dan bidan itu resmi ditahbiskan sebagai Uskup Agung Canterbury pada Rabu, 25 Maret 2026.

Dialah perempuan pertama yang memimpin komunitas Anglikan global yang beranggota sekitar 85 juta umat tersebut.

Pelantikan berlangsung khidmat di Canterbury Cathedral, Inggris wilayah tenggara. Pelantikan itu dihadiri 2.000 undangan, termasuk Pangeran William dan istrinya, Catherine, Princess of Wales. 

Prosesi tersebut mengikuti tradisi panjang gereja: Mullally mengetuk pintu barat katedral sebanyak tiga kali menggunakan tongkat. Itu merupakan simbol permohonan masuk.

BACA JUGA:Mengenal Adeptus Ministorum, Gereja Fanatik Penopang Imperium di Warhammer 40K

BACA JUGA:Dua Patriark Gereja Ortodoks Kunjungi Gaza Usai Serangan Mematikan ke Gereja Katolik


SARAH MULLALLY (kiri) mengetuk pintu barat Katedral Canterbury sebanyak tiga kali dalam prosesi pelantikan Rabu, 25 Maret 2026.-Alastair Grant/AP Photo-Al Jazeera

Dengan jubah berwarna kuning keemasan, dia disambut anak-anak sekolah setempat yang mempertanyakan misinya. Mullally menjawab singkat tapi tegas: dia datang untuk melayani, memberitakan kasih Kristus, dan beribadah bersama umat dengan sepenuh hati.

Puncak seremoni ditandai dengan Mullally duduk di dua takhta berbeda. Simbol itu merepresentasikan peran ganda Uskup Agung Canterbury. Dia adalah uskup agung di Keuskupan Canterbury sekaligus pemimpin spiritual umat Anglikan di seluruh dunia.

Pengangkatan Mullally terjadi setelah pendahulunya, Justin Welby, mundur pada November 2024. Keputusan itu diambil lantaran skandal penanganan kasus pelecehan yang mencoreng Church of England (Gereja Anglikan).

Laporan itu mengungkap bahwa ada kasus pelecehan berantai sejak 1970-an. Tapi, Gereja Anglikan menutup-nutupinya. Mereka pun dianggap tak mampu membawa kasus itu ke otoritas hukum saat peristiwa kelam itu mencuat pada 2013.

BACA JUGA:Trump Unggah Foto Berpakaian Seperti Paus, Sebut Ingin Jadi Pemimpin Gereja Katolik

BACA JUGA:477 Gereja Katolik di Indonesia Siapkan Tempat Istirahat untuk Pemudik pada Lebaran 2026

Dalam sejumlah pernyataan, Mullally menegaskan komitmennya untuk memperbaiki tata kelola gereja, khususnya dalam perlindungan korban.

Dia menyebut gereja harus menjadi ruang yang lebih aman, responsif, dan berperspektif trauma bagi para penyintas.

Secara historis, Church of England berdiri sejak pemisahan Raja Henry VIII dari Gereja Katolik Roma pada 1530-an. Hingga kini, monarki Inggris tetap menjadi pemimpin tertinggi gereja.

Sedangkan Uskup Agung Canterbury berfungsi sebagai figur spiritual utama bagi komunitas Anglikan dunia.

BACA JUGA:Uskup Surabaya Modik Sampaikan Empat Pesan Natal untuk Notaris, Soroti Reforma Agraria dan Integritas

BACA JUGA:Uskup Surabaya Silaturahmi ke Rumah Gubernur Khofifah, Pesankan Dialog dan Kerja Sama


PANGERAN WILLIAM dan Catherine menghadiri penahbisan Sarah Mullally sebagai Uskup Agung Canterbury.-Jordan Pettitt/AP Photo-Al Jazeera

Mullally, 63, merupakan Uskup Agung Canterbury ke-106 sejak jabatan itu pertama kali ada pada akhir abad keenam. Dan, latar belakangnya cukup unik. Mullally bukan teolog atau pemuka agama sejak muda.

Selama lebih dari tiga dekade, dia berkarier di National Health Service (NHS). Latar belakangnya adalah perawat kebidanan. Dia bahkan pernah menjabat sebagai kepala perawat Inggris pada 1999.

Perjalanannya di Gereja Anglikan dimulai relatif belakangan. Dia ditahbiskan sebagai imam pada 2002. Sejarah kemudian tercetak pada 2018. Mullally menjadi perempuan pertama yang menjadi Uskup London. Artinya, peristiwa itu terjadi setelah empat tahun sebelumnya gereja mengizinkan perempuan menjadi uskup.

Namun, Mullally tidak sepenuhnya diterima di seluruh dunia Anglikan. Sejumlah pihak masih menolak kepemimpinan perempuan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: