Dibubarkan Gus Dur, Kini Dihidupkan Lagi

Dibubarkan Gus Dur, Kini Dihidupkan Lagi

ILUSTRASI Dibubarkan Gus Dur, Kini Dihidupkan Lagi.-Arya/AI-Harian Disway -

JABATAN kaster (kepala staf teritorial TNI) dihidupkan lagi. Setelah terkubur selama 25 tahun. Pos itu dijabat perwira bintang tiga.

Jabatan tersebut dulu dibubarkan saat TNI mereformasi diri. Bubar di era Presiden Gus Dur. Sebab, kaster dianggap tak relevan dengan iklim politik demokrasi.

Jenderal terakhir di pos itu adalah Letjen Agus Widjojo. Jenderal yang dikenal sebagai intelektual tersebut terakhir menjabat duta besar di Filipina. Kaster sebelum Agus Widjojo dijabat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Itulah jabatan terakhir SBY di militer aktif. Ia harus melepaskan pakaian dinas TNI karena diminta Gus Dur menjadi menteri pertambangan dan energi (sekarang ESDM). 

Sejatinya, SBY salah seorang arsitek pembubaran kaster. Saat itu SBY dipercaya menjadi ketua Tim Reformasi ABRI (TNI). Tim tersebut juga membubarkan Fraksi TNI-Polri di DPR RI dan DPRD.

BACA JUGA:Ketika Perseteruan 'Dua Anak' Gus Dur Tak Juga Berakhir

BACA JUGA:Haul Gus Dur Pahlawan: Semangat Kemanusiaan yang Menggema Melampaui Waktu

Kaster, awalnya, bernama kassospol (kepala staf sosial politik). Posisinya langsung di bawah panglima ABRI. 

Panglima ABRI seperti memiliki dua tangan. Tangan kanannya adalah kasum (kepala staf umum) sebagai pembantu panglima urusan teknis militer. Tangan kiri adalah kassospol yang mengurus urusan dwifungsi ABRI.

Salah satu tugas kassospol berkaitan dengan penempatan tentara aktif di jabatan sipil. Termasuk penugasan sebagai gubernur, bupati, dirjen, duta besar, pimpinan DPR/DPRD, hingga pengurus Golkar.

Karena urusannya lebih banyak terkait dengan politik, para jenderal yang menjabat kassospol sangat populer.  Nama-nama Letjen Harsudiono Hartas, Letjen Haryoto P.S., hingga Letjen Syarwan Hamid sangat populer di kalangan politikus, media massa, dan ormas. 

BACA JUGA:Menjaga Marwah NU ala Gus Dur: Keberanian Moral di Atas Segala Kepentingan

Siapa yang akan menjabat gubernur Jatim, gubernur Jakarta, dan wali kota Surabaya, para wartawan lebih percaya ucapan kassospol daripada mulut para ketua umum partai politik. Itulah zaman ”keemasan” kassospol era Soeharto.

Salim Said, pengamat militer, menyebutkan bahwa akar dwifungsi sudah ada sejak awal negeri ini terbentuk. Tentara dan rakyat berbaur dalam perjuangan awal kemerdekaan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: