Rektor Masjid
PROF NASIH (kanan) menerima sertifikat Masjid Nuruzzaman dari Ketua DMI Surabaya Arif Afandi. -Sugeng Deas untuk Harian Disway-
HIDUP ini memang pilihan. Termasuk pilihan apa setelah masa pensiun kita? Apakah mau ”nyaur utang” leha-leha menikmati hidup tanpa kerja. Atau, tetap berkarya yang bermanfaat bagi banyak orang.
Pilihan Prof Dr Mohamad Nasih ini menarik. Sampean tahu, ia adalah mantan rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Dua periode. Yang belum lama menanggalkan jabatannya sebagai orang pertama di kampus itu.
Guru besar ekonomi itu punya pilihan menarik setelah pensiun. Apa itu? Menjadi takmir masjid. Bisa dikata, dari rektor universitas kini menjadi rektor masjid. Masih di lingkungan Unair juga. Di kampus B. masjid Nuruzzaman.
Itu masjid keren sekali. Baru saja selesai dibangun. Terdiri atas tiga lantai. Selain menjadi tempat ibadah, juga menjadi tempat kegiatan mahasiswa. Nyaman sekali untuk salat dan berdiskusi apa pun.
BACA JUGA:Transformasi Imam Masjid ke Imam Kementerian
BACA JUGA:Panyirep Gemuruh Masjid Peneleh
Saya tahu pergeseran peran mantan rektor Prof Nasih itu saat mencari tempat pelantikan pengurus Pimpinan Daerah Dewan Masjid Indonesia (PD DMI) Surabaya yang baru. Kabetulan saya masih dipercaya memimpinnya untuk periode ketiga. Padahal, sudah ingin berganti ladang khidmah.
Sebenarnya sudah ingin pensiun di DMI. Namun, karena permintaan Ketum PP DMI Jusuf Kalla, saya tak bisa mengelak. Apalagi, memintanya di depan Ketua PW DMI Jatim Dr H Sujak. Saat pelantikannya sebagai ketua beberapa waktu lalu.
Biasanya pelantikan berlangsung di hotel atau gedung. Kali ini ingin dilakukan di masjid. Memulai bekerja untuk masjid dari masjid. Mungkin begitu nalarnya. Setelah keliling, ketemulah Masjid Nuruzzaman yang baru selesai direnovasi.
BACA JUGA:Penyuluhan Kewirausahaan Berbasis Moral Etika pada Jamaah Masjid Al Islami Malang
Lokasi masjid itu sangat strategis. Di Kampus B Unair. Di tepi jalan. Samping RS dr Soetomo. Parkirnya luas, halamannya luas. Di dalam area kampus lama. Di samping gedung pascasarjana. Dilengkapi lift dan infrastruktur pendukung.
Lupa tidak bertanya habis berapa membangun masjid tersebut. Saya perkirakan lebih dari lima puluh miliar rupiah. Ada kantin dan toko ritelnya. Ada ruang-ruang kelasnya. Ramah untuk difabel. Ada ruang terbuka untuk diskusi mahasiswa.
”Saya ingin mahasiswa merasa nyaman di masjid. Kalau ingin belajar kelompok atau kegiatan lainnya,” kata Nasih yang juga fasih menjadi imam salat itu. Juga, nyaman untuk belajar sambil ngadem di luar kelas.
Misi itu bikin DMI Kota Surabaya makin yakin mengawali kerja organisasinya dari masjid tersebut. Apalagi, Prof Nasih juga bersedia menjadi ketua Dewan Mustasyar-nya. Semacam dewan penasihat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: