Demokrasi Kampus di Era Digital, Universitas Ciputra Hadirkan Pemilu Raya Berbasis CEdX
Demokrasi Kampus di Era Digital: Universitas Ciputra Hadirkan Pemilu Raya Berbasis CEdX-Universitas Ciputra Surabaya-Harian Disway
SURABAYA, HARIAN DISWAY - Demokrasi pendidikan di lingkungan kampus. Di era digital, kini tidak lagi sebatas konsep partisipasi mahasiswa di dalam kelas.
Namun, berkembang menjadi praktik nyata. Mencakup kebebasan berpendapat, kemudahan akses terhadap informasi, serta peran aktif dalam proses pengambilan keputusan akademik dan sosial.
Kehadiran teknologi digital, seperti platform pembelajaran daring, media sosial, hingga ruang diskusi bentuk virtual, memberikan ruang lebih luas bagi mahasiswa.
Mereka dapat menyampaikan ide, mengkritisi kebijakan kampus. Sekaligus membangun jaringan intelektual tanpa batas geografis.
BACA JUGA:Universitas Ciputra Edukasi Bahaya Kanker Rongga Mulut Lewat Program Halo UC Dok
Menanggapi hal tersebut, Universitas Ciputra Surabaya mendorong pembelajaran demokrasi yang lebih relevan dengan zaman.
Yakni melalui pelaksanaan Pemilu Raya Organisasi Kemahasiswaan berbasis digital. Proses itu dirancang sebagai ruang belajar bagi mahasiswa untuk memahami praktik demokrasi di era teknologi.
Untuk pertama kalinya, seluruh pemilihan lintas organisasi, mulai dari Student Council, Student Union, hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), diintegrasikan dalam satu platform digital, CEdX (Ciputra Education Digital Experience).
Sistem itu memungkinkan mahasiswa tetap berpartisipasi dalam pemilu dari mana saja. Sekaligus mengakses informasi kandidat secara lebih terbuka.
BACA JUGA:Tiga Guru Besar Universitas Ciputra Soroti Krisis Identitas Wisata dan Risiko AI di Indonesia
BACA JUGA:Universitas Ciputra Fair 2026 Jadi Ajang Ratusan Siswa SMA Asah Jiwa Entrepreneurship

Potret mahasiswa saat memilih pasang calon dalam demokrasi pemilihan umum di Universitas Ciputra Surabaya-Universitas Ciputra Surabaya-Harian Disway
Sebanyak 80 mahasiswa terlibat sebagai kandidat. Mencerminkan meningkatnya partisipasi sekaligus kompleksitas proses demokrasi di tingkat kampus.
Namun bagi Universitas Ciputra, angka tersebut tak hanya menunjukkan statistik. Melainkan bagian dari proses pembelajaran kepemimpinan dan pengambilan keputusan.
Head of Student Affairs, Novi Rosita, menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi dalam pemilu tersebut memiliki tujuan yang lebih mendasar.
“Mahasiswa tidak hanya belajar menggunakan teknologi. Tetapi juga belajar menjadi pemilih yang kritis, memahami visi kandidat, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab,” ujarnya.
BACA JUGA:Watercolor Workshop Pungkasi Creative Space 2026 di Universitas Ciputra Surabaya
Untuk mendukung hal tersebut, kampus tidak hanya menyediakan sistem voting online. Tetapi juga menghadirkan booth pameran kandidat.
Melalui pendekatan itu, mahasiswa didorong untuk membandingkan gagasan secara langsung sebelum menentukan pilihan.
Ketua Pelaksana UCED Jocelyn Jessie, menyebut bahwa integrasi teknologi menjadi kunci dalam menciptakan pengalaman demokrasi yang lebih utuh.
“Teknologi kami gunakan bukan hanya untuk mempermudah. Tetapi untuk memperkaya proses. Mahasiswa bisa mengakses informasi, membandingkan kandidat, dan tetap terlibat meskipun tidak berada di kampus,” jelasnya.

Bentuk sistem CEDx dalam proses demokrasi pemilihan umum di Universitas Ciputra-Universitas Ciputra Surabaya-Harian Disway
BACA JUGA:Mahasiswa Arsitektur Universitas Ciputra Wajib Pahami Sosok Romo Mangun
BACA JUGA:Tim Dosen Universitas Ciputra Rilis Buku Penguatan Identitas Kya-Kya di Surabaya
Fleksibilitas itu dirasakan langsung oleh mahasiswa. Termasuk mereka yang sedang menjalani magang di luar kota.
Di sisi lain, kehadiran sistem digital juga membuka ruang diskusi baru. Yakni terkait keamanan dan integritas data mengenai isu yang semakin relevan dalam praktik demokrasi modern.
Ketua Student Representative Board (SRB) Chelsea Patricia, menjelaskan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kedewasaan dalam mengambil keputusan.
“Teknologi mempermudah akses. Tetapi kualitas demokrasi tetap ditentukan oleh seberapa sadar dan kritis pemilih dalam menentukan pilihan,” ungkapnya.
BACA JUGA:Hadirkan Jawara MasterChef, Taste of Australia Digelar di Universitas Ciputra
BACA JUGA:108 Kampus Ikut Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia di Universitas Ciputra
"Melalui inisiatif ini, kami tidak hanya menyelenggarakan pemilu. Tetapi juga menghadirkan simulasi nyata demokrasi digital," tambahnya.
Menurut Chelsea, ke depan, pengembangan akan difokuskan pada transparansi rekam jejak kandidat. Serta penguatan sistem untuk memastikan proses yang semakin akuntabel.
Novi berharap Pemilu Raya itu menjadi contoh pemaksimalan teknologi. Tak semata untuk efisiensi. Tapi sebagai sarana pembelajaran yang membentuk cara berpikir kritis dan partisipatif generasi muda di era digital. (*)
*) Peserta Maganghub Kemnaker RI
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: