Menilik Program Kesehatan Mental Fakultas Psikologi, Unair (2-Habis): Merawat Kewarasan Kerja di Borobudur
MERAWAT Borobudur, Merawat Kewarasan Kerja. -Suryanto untuk Harian Disway-
PENAT tidak selalu sembuh di ruang seminar. Kadang ia turun pelan-pelan saat kaki diajak berjalan hampir 6.000 langkah, saat napas bertemu udara segar, saat mata memandang bukit, dan saat telinga mendengar cerita batu-batu tua. Itulah yang terjadi pada hari kedua Program Kesehatan Mental dosen dan tenaga kependidikan Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga.
Tidak ada ceramah panjang. Tidak ada permainan di dalam ruangan. Yang ada adalah perjalanan ke salah satu situs paling agung di negeri ini: Candi Borobudur.
Borobudur memang bukan sekadar tempat wisata. Ia adalah bangunan batu, kitab terbuka, ruang sejarah, sekaligus sekolah kesabaran. Dari jauh tampak megah. Dari dekat terasa lebih mengagumkan.
Setiap batu seperti punya alasan. Setiap relief seperti punya suara. Setiap tangga seperti mengingatkan bahwa hidup tidak selalu harus dikejar dengan tergesa.
BACA JUGA:Menilik Program Kesehatan Mental Fakultas Psikologi Unair (1): Sejenak Berhenti di Nepal van Java
BACA JUGA:Tingkatkan Keamanan Pelanggan, Grab Gandeng Fakultas Psikologi UI
Tingkatan Borobudur bukan sekadar susunan batu. Ia menggambarkan perjalanan batin manusia: dari dunia nafsu di kamadatu, naik menuju dunia bentuk di rupadatu, lalu sampai pada keheningan tertinggi di arupadatu.
Cara mengunjungi Borobudur sekarang juga sudah berubah. Jauh lebih tertata. Sekarang alurnya lebih rapi. Masuk dan keluar menggunakan pemindaian barcode. Bila ada pengunjung yang memaki kursi roda, ada juga persewaannya.
Pengunjung yang naik ke struktur candi mendapat gelang tiket dan alas kaki khusus bernama upanat, yang memang menjadi bagian dari paket kunjungan naik candi. Situs resmi tiket Borobudur juga mencantumkan upanat sebagai perlengkapan wajib untuk tiket naik struktur candi.
Sebelum naik, kami berkumpul di pelataran ruang tunggu. Di sanalah alas kaki diganti. Bentuknya sederhana: ada bantalan karet dan anyaman pandan. Namun, maknanya besar. Alas kaki itu bukan sekadar aksesori wisata. Ia adalah cara baru merawat batu-batu tua agar tidak terus-menerus digerus sol sepatu pengunjung.
Di ruang tunggu itulah kami bertemu pemandu. Namanya Mas Yanto. Perawakannya agak kurus dan tinggi sekitar 165 cm. Saya masih ingat namanya karena ia tidak hanya mengantar, tetapi juga bercerita. Mas Yanto tidak hanya menyampaikan informasi tentang candi. Mas Yanto lebih dari itu. Ia membuat batu-batu tua tersebut seperti hidup lagi.
Perjalanan dimulai dengan foto bersama. Latar belakangnya Borobudur dari sisi timur. Setelah itu, Mas Yanto mulai menjelaskan sejarah singkat candi. Borobudur dibangun pada masa Wangsa Syailendra sekitar abad ke-8 sampai ke-9.
UNESCO mencatat Borobudur sebagai salah satu monumen Buddha terbesar di dunia, dibangun dalam tiga susunan besar: bagian dasar bertingkat, lima teras persegi, tiga pelataran melingkar, dan puncak berupa stupa utama.
Nama Gunadharma sering disebut dalam cerita populer sebagai perancang Borobudur. Lepas dari perdebatan sejarah tertulisnya, satu hal sulit dibantah: Borobudur adalah tanda tingginya peradaban.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: