Seni di Antara Manusia dan Kecerdasan Buatan
ILUSTRASI Seni di Antara Manusia dan Kecerdasan Buatan.-Arya/AI-Harian Disway -
Kehadiran generative AI itu malah membuka peluang untuk para kreator konten yang melihat itu sebagai kesempatan untuk berkarya. Bukannya beramai-ramai belajar berseni selayaknya seniman dan kreator lainnya, justru menggunakan AI.
Apakah alasan mereka menggunakan AI tersebut? Penggunaan AI dinilai efisien, menghemat waktu, dan biaya. Daripada mempelajari dengan tekun cara berseni yang benar, lebih baik menggunakan AI sebagai jalan keluar.
BACA JUGA:Nujum Pangan Seniman
BACA JUGA:Seni Tradisi Tidak Akan Mati
Masyarakat tentu terbagi menjadi kubu yang mendukung dan yang tidak mendukung. Kubu yang mendukung tentu berargumen bahwa alasan mereka menggunakan AI bisa diterima akal sehat, namun kubu yang tidak mendukung mempunyai cukup banyak argumen.
Misalnya, dari segi hukum dan etis, seni yang dibuat oleh kecerdasan buatan menggunakan informasi-informasi yang tersebar dalam platform digital tanpa adanya izin dari pembuat konten, yang menjadikannya pelanggaran hak cipta.
Alasan itu adalah yang paling masuk akal. Sebab, jika dilihat lebih lanjut, banyak seni kecerdasan buatan yang mempunyai karakteristik seperti beberapa kreator yang ciri khasnya digabungkan menjadi satu, yang jelas menempatkan seni kecerdasan buatan sebagai ”seni” yang tidak ”nyeni”.
Banyak yang berpendapat bahwa seni hasil kecerdasan buatan tentu tidak akan pernah bisa menyaingi nilai-nilai keindahan dan estetika yang dihadirkan oleh karya seni ciptaan manusia. Seni seharusnya menjadi wadah bagi manusia untuk bisa menuangkan berbagai perasaan, seperti sedih, senang, nostalgia, marah, cemas, dan rindu.
Hal-hal terkait dengan bagaimana perasaan manusia tersebut dituangkan ke dalam bentuk senilah yang tidak bisa direkayasa ulang oleh mesin dengan kemampuan kecerdasan buatan. Mesin hanya bisa mengalkulasi data dan menginterpretasikan data ke dalam bentuk ”seni”.
Namun, manusia menciptakan seni sebagaimana seni selayaknya diciptakan. Tentu, seni ciptaan mesin pun akan terlihat ”mati” ataupun ”tidak emosional” sebagaimana seni ciptaan manusia.
Tidak hanya itu, mesin pun bisa saja error dan malah membuat kesalahan dalam seni, berbeda dengan manusia yang mampu mengubah error atau kesalahan menjadi bagian dari seni itu sendiri.
Jika para kreator konten yang menggunakan AI dalam bidang seni tersebut dibiarkan, perusahaan-perusahaan akan menggantikan seniman manusia menjadi seniman AI karena tentu mengelola karyawan ”mesin” tidak akan membutuhkan banyak biaya seperti karyawan manusia.
Dari sudut pandang pendukung seni kecerdasan buatan, ada beberapa poin argumen yang juga terbilang masuk akal. Misalnya, kemudahan akses untuk mempelajari seni, memenuhi persyaratan produksi yang masif untuk hiburan, content creation, dan marketing, perkembangan teknologi yang cepat memiliki dampak positif untuk dunia seni dalam hal seni digital.
Yaitu, seni yang dibuat dengan menggunakan aplikasi atau software tidak perlu lagi menggunakan pensil dan kertas secara tradisional. Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan AI akan cenderung bersifat positif jika dimanfaatkan dengan benar, juga memberikan kesempatan bagi banyak orang untuk ikut mengekspresikan diri mereka dan belajar seni.
Meski begitu, dampak dari digitalisasi dan kehadiran AI dalam masyarakat sekarang cenderung memiliki dampak untuk perspektif dan dinamika masyarakat mengenai seni itu sendiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: