Mengabadikan Kiprah Kartolo dalam Memori Publik
ILUSTRASI Mengabadikan Kiprah Kartolo dalam Memori Publik.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
BANYAK orang mengetahui bahwa Kartolo adalah seniman lawak kawakan yang ikonik di kesenian ludruk. Namun, fakta lain tentang proses kreatif Kartolo dalam mengumpulkan ide, meracik, dan mewujudkannya dalam pentas, kiranya belum banyak diketahui publik.
Ia ternyata dengan tekun menorehkan gagasan otentiknya dalam 14 jilid buku besar folio yang ditulis tangan.
Kumpulan naskah tulisan tangan dan arsip rekam audio dikompilasi dengan judul Arsip Kiprah Kartolo: Maestro Seni Tradisi Kesenian Ludruk, kemudian diajukan dalam memori kolektif bangsa program register lembaga Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Berdasar keputusan kepala ANRI Nomor 180/2026, usulan tersebut disetujui dan ditetapkan sebagai memori kolektif bangsa.
BACA JUGA:The Luntas Indonesia adaptasi Naskah Kartolo CS: Warung Kintel
Raihan penghargaan Anugerah Memori Kolektif Bangsa dari ANRI yang baru saja didapatkan Kartolo pada 20 Mei 2026 menegaskan Kartolo bukan hanya maestro seni ludruk, melainkan juga pencatat dan pengarsip karya sendiri secara mandiri.
Pencatatan rencana dan skenario pentas biasanya dilakukan orang yang memiliki kepentingan. Misalnya, penulis naskah dan sutradara seni pertunjukan.
Kartolo ternyata menempati posisi penting tidak hanya sebagai seniman, tetapi juga sebagai penulis naskah dan sutradara kesenian ludruk. Catatan itu disimpan rapi pada buku-buku khusus. Catatan tangan atau manuskrip itulah yang menjadi pembeda dirinya dengan seniman-seniman lainnya.
Manuskrip Kartolo secara spesifik memuat setidaknya tujuh hal sebagai berikut: (1) tanggal dan tempat pentas; (2) tema/nama lakon yang dipentaskan; (3) nama orang/tokoh/pejabat dan institusi pengundang; (4) nama acara atau konteks acara; (5) kata-kata/istilah-istilah yang terkait dengan bahan konten cerita/lakon yang dipentaskan; (6) catatan/penanda perpindahan babak serta waktu pemain lain masuk ke dalam/keluar dari panggung; (7) syair kidungan jula-juli yang dilantunkan Kartolo saat membuka pentas.
Catatan tangan Kartolo menyertakan lokasi pentas di beberapa daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bahkan, beberapa kali pernah pentas di luar Jawa seperti Balikpapan, Bontang, Palangka Raya, Batam, dan Lombok.
Undangan pentas di luar Jawa berhubungan dengan para migran Jawa yang bermukim di daerah-daerah tersebut. Menurut penuturan Kartolo, sebagian besar di antara mereka adalah orang Jawa yang membentuk komunitas di tanah rantau yang mengetahui Kartolo melalui persebaran distribusi kaset, siaran radio RRI, televisi, dan memori kolektif sebelum bermukim di luar Jawa.
Berdasar manuskrip Kartolo, diketahui bahwa pentas seniman profesional memerlukan persiapan-persiapan yang matang. Manuskrip tersebut bernilai penting karena menandai cara seniman kesenian tradisional berkreasi mewujudkan ide pada goresan pena dapat dibaca.
Rekaman audio dapat didengarkan ulang oleh generasi berikutnya. Dari manuskrip dan rekaman, setiap periode selalu muncul seniman yang paling populer dan hanya seniman yang mempunyai karakter khas akan selalu dikenang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: