Dari Apa ke Siapa: Bahasa, Kredibilitas, dan Pergeseran Perdebatan Publik
ILUSTRASI Dari Apa ke Siapa: Bahasa, Kredibilitas, dan Pergeseran Perdebatan Publik.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Tindak Tutur dan Ancaman Muka
Dalam teori tindak tutur (speech act theory), setiap ujaran tidak hanya memiliki makna proporsional, tetapi juga kekuatan ilokusi, yakni maksud yang ingin dicapai penutur melalui ujarannya.
Penyebutan ”tiga bulan” dalam konteks perdebatan publik memiliki kekuatan ilokusi berupa diskreditasi: tindak tutur yang bertujuan melemahkan posisi lawan bicara bukan melalui konter-argumen, melainkan melalui serangan terhadap identitasnya.
BACA JUGA:Bahasa, Alat Kekuasaan di Era Orde Baru
BACA JUGA:Menjaga Bahasa, Menjaga Budaya: Refleksi Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional
Hal itu juga bersinggungan dengan konsep ancaman muka (face-threatening act) dalam teori kesantunan oleh Brown dan Levinson. Setiap individu memiliki dua dimensi ”muka”: muka positif (keinginan untuk diterima dan dihargai) dan muka negatif (keinginan untuk tidak diganggu atau direndahkan).
Penyebutan masa jabatan yang singkat secara implisit mengancam muka positif seseorang –ia mempertanyakan nilai dan kemampuan seseorang di hadapan publik– tanpa melakukan konfrontasi langsung yang terbuka.
Dengan kata lain, tindak tutur itu mengandung kesantunan yang semu. Di permukaan, ia berbentuk pernyataan faktual. Namun, secara pragmatis, ia bekerja sebagai serangan terhadap kredibilitas lawan bicara.
Itulah yang membuat strategi semacam itu efektif sekaligus ”licin” karena ia sulit dibantah karena memang tidak pernah secara eksplisit dinyatakan. Pelanggaran terhadap prinsip sopan santun pun tidak kasatmata, tersembunyi di balik kenetralan fakta dalam kata.
Bahasa dan Wajah Gandanya
Sebuah argumen tidak otomatis benar karena disampaikan oleh seseorang yang berpengalaman panjang. Sebaliknya, ia tidak otomatis salah karena disampaikan oleh seseorang yang baru memulai.
Ketika identitas pembicara menjadi perhatian utama, substansi sering kali terdorong ke pinggiran dan itulah yang menjadi masalah mendasar dalam budaya debat publik kita.
Bahasa menunjukkan wajah gandanya. Ia dapat digunakan untuk membangun kredibilitas, tetapi juga untuk meruntuhkannya. Di ruang digital yang bergerak cepat, dua hal itu bisa terjadi hanya melalui potongan-potongan bahasa yang sangat singkat. Sebuah kata, sebuah angka, sebuah frasa yang seolah netral, semuanya bekerja lebih keras dari yang tampak di permukaan.
Memahami mekanisme itu tidak berarti kita harus selalu curiga terhadap setiap pilihan kata. Namun, kesadaran akan cara bahasa bekerja –bahwa ia tidak pernah hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk persepsi, mengarahkan penalaran, dan bahkan secara halus melanggar prinsip-prinsip dasar komunikasi yang sehat– adalah bekal penting untuk menjadi partisipan yang lebih kritis dalam ruang publik.
Mungkin tulisan ini hanyalah membahas bahasa. Namun, jika sebuah jabatan tiga bulan dapat menggeser perhatian publik dari argumen ke orangnya, tampaknya bahasa memang tidak pernah hanya soal bahasa. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: