Dari Apa ke Siapa: Bahasa, Kredibilitas, dan Pergeseran Perdebatan Publik

Dari Apa ke Siapa: Bahasa, Kredibilitas, dan Pergeseran Perdebatan Publik

ILUSTRASI Dari Apa ke Siapa: Bahasa, Kredibilitas, dan Pergeseran Perdebatan Publik.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

DALAM sebuah polemik publik yang belakangan ramai dibicarakan, perhatian masyarakat semula tertuju pada substansi kritik yang disampaikan. Namun, tidak lama kemudian, percakapan justru bergeser ke hal lain: masa jabatan salah satu pihak yang konon hanya berlangsung tiga bulan.

Tiga bulan sesungguhnya hanyalah angka satuan waktu. Kata yang netral yang tidak mengandung nilai rasa negatif, tuduhan, ataupun penolakan secara langsung. Namun, dalam ruang publik, angka itu ternyata cukup kuat untuk mengubah arah percakapan. Yang semula diperdebatkan adalah argumen, perlahan bergeser menjadi seseorang yang menyampaikan argumen tersebut.

Di sinilah bahasa menunjukkan kekuatannya yang paling menarik sekaligus paling halus, bahwasannya bahasa tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga dapat mengarahkan perhatian. Bergeser dari apa yang dikatakan menuju siapa yang mengatakannya. 

Inferensi dan Makna di Balik Angka

Fenomena ini tidak hanya muncul dalam perdebatan politik. Kita dapat menemukannya dalam keseharian, terutama di media sosial. Ketika seseorang menyampaikan pendapat, yang lebih dulu dinilai sering kali bukan isi ucapannya, melainkan identitas pembicaranya: latar belakang, jabatan, profesi, atau pengalaman yang dimiliki. 

BACA JUGA:Bahasa Daerah di Ujung Senja

BACA JUGA:Ketika Banjir 'Terjadi': Bahasa, Agen, dan Tanggung Jawab

Akibatnya, tidak sedikit perdebatan yang bergeser dari pertukaran gagasan menjadi pertarungan legitimasi.

Dari perspektif pragmatik –cabang ilmu linguistik yang mempelajari bahasa dalam konteks penggunaannya– fenomena itu menarik karena menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi. 

Bahasa juga digunakan untuk membangun kepercayaan, memperoleh legitimasi, mempertahankan otoritas, atau sebaliknya, malah meruntuhkan semua itu.

Sekilas, penyebutan masa jabatan tiga bulan tampak sebagai informasi faktual yang netral. Namun, yang perlu diingat adalah bahasa tidak bekerja hanya pada tingkat fakta, tetapi juga pada tingkat makna sosial. 

Ketika seseorang mengingatkan bahwa seorang tokoh ”hanya menjabat tiga bulan”, pendengar sering kali menangkap lebih dari sekadar informasi kronologis. Muncul kesan bahwa pengalaman tersebut kurang memadai, otoritasnya dipertanyakan. Menariknya, semua kesan itu tidak pernah diucapkan secara langsung.

BACA JUGA:Pantun dan Budi Bahasa yang Mulai Menipis

BACA JUGA:Merawat Bahasa Daerah, Menjaga Identitas

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: