Monyet Ekor Panjang, Hama yang Bernilai Mahal

Monyet Ekor Panjang, Hama yang Bernilai Mahal

ILUSTRASI Monyet Ekor Panjang, Hama yang Bernilai Mahal.-AI-

SALAM lestari! Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) sering dipakai dalam penelitian medis karena DNA dan organ tubuhnya mirip manusia. Hewan itu digunakan untuk uji obat, vaksin, dan riset otak. Harganya mahal, tetapi menuai kritik.

Status konservasi monyet ekor panjang menunjukkan bahwa spesies itu terancam punah walau di Indonesia dari Sabang hingga Merauke sudah dianggap hama yang meresahkan masyarakat.

Dari sisi etika hewan, banyak pihak yang menolak karena dianggap menyiksa hewan, perizinan ketat, serta penangkapan dan penangkaran diatur dengan izin khusus demi menjaga alam.

Secara global, menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), monyet ekor panjang berstatus terancam punah (endangered) karena populasinya menyusut tajam. Namun, di Indonesia, hewan itu masih sering terlihat dan meresahkan masyarakat, belum sepenuhnya masuk kategori satwa yang dilindungi undang-undang.

BACA JUGA:Potret Monyet Ekor Panjang Usai Pembabatan Mangrove Surabaya

BACA JUGA:Nestapa Punch, Monyet Jepang yang Beribu Boneka Orangutan: Publik Simpati, Boneka Jadi Laris

Status Global

IUCN memasukkan monyet ekor panjang dalam kategori endangered (genting/terancam punah) karena populasinya turun hingga 40 persen dalam beberapa dekade terakhir.

Status di Indonesia, monyet itu sering dianggap berisiko rendah secara lokal, tetapi menghadapi tekanan berat dari penangkapan liar dan ekspor untuk kebutuhan uji laboratorium. Konflik langsung dengan manusia kerap terjadi di area permukiman atau wisata.

Tantangan Hidupnya

Tantangan itu muncul karena habitat alami yang terus menyusut. Hutan yang menjadi tempat hidup monyet ekor panjang makin berkurang akibat pembukaan lahan untuk permukiman, pertanian, dan tambang.

Monyet berperan penting bagi lingkungan sebagai penyebar biji alami yang membantu menumbuhkan pohon baru, pengendali hama serangga, serta indikator kesehatan hutan. Kehadiran mereka menjaga siklus hidup dan keseimbangan ekosistem agar tetap lestari.

Di Indonesia ada sekitar sepuluh penangkaran untuk memenuhi kebutuhan penelitian medis di Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok. Namun, sejumlah organisasi perlindungan satwa menentang ekspor tersebut, tetapi tidak memberikan solusi.

Indonesia sempat tidak mengekspor monyet selama sekitar 10 tahun, sejak sebelum 2020 hingga pertengahan 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: