Marhaenisme dan Relevansi Pemikiran Bung Karno

Marhaenisme dan Relevansi Pemikiran Bung Karno

ILUSTRASI Marhaenisme dan Relevansi Pemikiran Bung Karno. Presiden Prabowo Subianto menyebut "marhaenisme" dalam pidato kenegaraan pada Sabtu, 14 Agustus 2026.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Mereka mengukurnya dari harga yang diterima ketika menjual hasil produksi, pekerjaan dan pendapatan yang layak, kesempatan memperoleh modal dan pendidikan, kemampuan mengembangkan usaha, serta harapan bahwa kehidupan anak-anak mereka kelak akan lebih baik.

Barangkali di situlah cara paling sederhana memahami mengapa pemikiran Bung Karno masih relevan. Ia mengajak kita menilai pembangunan dari kehidupan manusia yang bekerja, bertani, melaut, berdagang, dan berproduksi, lalu menguji apakah kemajuan ekonomi membuat mereka makin kuat dan makin berdaulat atas kehidupannya sendiri. 

Jika pembangunan bergerak ke arah itu, marhaenisme akan hidup jauh melampaui zaman Bung Karno karena cita-citanya hadir dalam kehidupan rakyat.

Pada akhirnya, relevansi pemikiran Bung Karno tidak ditentukan oleh usia gagasannya, melainkan oleh kenyataan bahwa pertanyaan yang diajukannya hampir satu abad lalu masih menjadi pertanyaan Indonesia hari ini: untuk siapa kemajuan dan pembangunan itu dijalankan? (*) 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: