Gerak Adalah Obat bagi Lansia Pengidap Penyakit Kronis

Gerak Adalah Obat bagi Lansia Pengidap Penyakit Kronis

ILUSTRASI Gerak Adalah Obat bagi Lansia Pengidap Penyakit Kronis.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

BADAN Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan memiliki Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) yang berfokus pada hipertensi dan diabetes melitus tipe 2 (DMT2). Mayoritas peserta Prolanis adalah kelompok usia lanjut yang mendapat pemeriksaan sederhana dan fungsi ginjal secara rutin. Kegiatan seperti olahraga bersama juga secara teratur dilakukan.

Dalam rangka kegiatan pengabdian kepada masyarakat, Departemen Anatomi, Histologi, dan Farmakologi Universitas Airlangga menggelar kegiatan yang melibatkan 45 peserta ibu-ibu Prolanis di Kecamatan Kamal, Bangkalan. 

Rangkaian acara yang diawali dengan senam bersama itu diikuti dengan pemeriksaan kesehatan dan penyuluhan. Kegiatan tersebut mencatat temuan krusial: sekitar 73 % peserta memiliki kadar asam urat di atas normal (>6,0 mg/dL), 22 % mengalami kadar gula darah sewaktu yang tinggi (>200 mg/dL), dan 55% obesitas tingkat I. 

Data itu mempertegas tingginya beban penyakit metabolis pada kelompok usia tersebut. 

BACA JUGA:Menua dengan Berdaya, Mencari Solusi Alternatif bagi Lansia Indonesia

BACA JUGA:Anatomi Psikologi Hari Lansia: Ketika Didengarkan Adalah Obat dan Dilibatkan Adalah Vitamin

Manajemen penyakit kronis kerap bertumpu pada farmakoterapi. Kendati obat-obatan efektif mengontrol gejala, intervensi medis semata belum cukup untuk memulihkan vitalitas fungsional. 

Salah satu tantangan Prolanis di Indonesia adalah rendahnya aktivitas fisik peserta. Aktivitas fisik sering kali dipahami sebagai kegiatan tambahan, bukan bagian integral dari terapi penyakit kronis. 

Dalam perspektif fisiologis, gerak adalah pengobatan dinamis. Aktivitas fisik sangat esensial untuk mempertahankan massa dan kekuatan otot guna mencegah sarkopenia, yaitu penurunan massa dan fungsi otot rangka karena penuaan. 

American Heart Association menunjukkan bahwa sarkopenia berkaitan dengan risiko dan progresivitas penyakit jantung. Studi di kelompok masyarakat Amerika Serikat dan Tiongkok memperlihatkan angka harapan hidup yang lebih rendah pada kelompok sarkopenia.

BACA JUGA:Lansia, Mengapresiasi Kontribusinya bagi Masyarakat

BACA JUGA:Menjadi Lansia yang Bahagia

Mengapa otot begitu penting pada usia lanjut? Otot rangka bertanggung jawab menyerap sekitar 80 persen glukosa sirkulasi setelah makan. Ketika massa otot menurun akibat kurang gerak, ditambah pola makan tinggi gula dan lemak jenuh, tubuh kehilangan tempat penyimpanan terbesar glukosa. 

Akibatnya, glukosa terus beredar di dalam darah tanpa tujuan dan menurunkan sensitivitas terhadap hormon insulin. Resistansi insulin itu memicu kerusakan pembuluh darah, komplikasi organ, dan memperburuk sarkopenia itu sendiri. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: