Nahdlatul Ulama Terlalu Besar untuk Dimiliki
ILUSTRASI NU Terlalu Besar untuk Dimiliki.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
SETIAP KALI muktamar Nahdlatul Ulama digelar, perhatian publik hampir selalu tertuju pada satu pertanyaan: siapa yang akan menjadi ketua umum PBNU? Nama-nama mulai beredar.
Pertemuan antartokoh makin sering dilakukan. Dukungan dari wilayah dan cabang dihitung. Para kiai didatangi. Jaringan pesantren dikonsolidasikan. Tokoh politik ikut mengamati. Pemerintah pun tidak mungkin sepenuhnya tidak berkepentingan.
Suasana muktamar kemudian menyerupai sebuah perhelatan politik nasional. Ada kandidat, tim pendukung, lobi, pemetaan suara, perubahan koalisi, dan berbagai pertemuan yang tidak selalu diketahui publik.
Pertanyaannya, mengapa NU begitu diperebutkan? Jawaban paling mudah tentu karena NU besar. Basis sosialnya tersebar luas. Pesantrennya berjumlah ribuan. Jaringan kiai dan santrinya menjangkau desa-desa.
BACA JUGA:NU Bukan Nahdlatul Umara
BACA JUGA:Mengoyak Adab dan Konstitusi Nahdlatul Ulama
Lembaga pendidikannya tumbuh dari tingkat paling dasar sampai perguruan tinggi. Badan otonom dan lembaganya menyentuh hampir semua lapisan masyarakat.
Namun, jawaban itu belum cukup. NU tidak hanya besar secara jumlah. NU juga menyimpan modal keagamaan, kultural, sosial, ekonomi, dan politik sekaligus. Tidak banyak organisasi di Indonesia yang mempunyai kelengkapan modal seperti itu.
Karena itulah, memimpin PBNU bukan sekadar memimpin organisasi kemasyarakatan. Jabatan itu membawa otoritas simbolis yang sangat besar. Ketua umum PBNU memperoleh panggung untuk berbicara mengenai agama, kebangsaan, demokrasi, pendidikan, hubungan internasional, bahkan arah politik nasional.
Di sinilah kita menemukan sebuah paradoks: ”NU sangat besar sehingga selalu diperebutkan, tetapi sangat cair sehingga tidak pernah dapat dimiliki sepenuhnya”.
BACA JUGA:Holding Muhammadiyah, Waralaba Nahdlatul Ulama (NU)
BACA JUGA:PBNU Gonjang-ganjing, Dekatkanlah Yang Jauh
NU Lebih Besar daripada PBNU
Untuk memahami paradoks tersebut, kita harus membedakan antara NU sebagai organisasi dan NU sebagai kehidupan sosial. Secara organisatoris, NU mempunyai struktur yang jelas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: