Nahdlatul Ulama Terlalu Besar untuk Dimiliki
ILUSTRASI NU Terlalu Besar untuk Dimiliki.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Ada pengurus besar, pengurus wilayah, pengurus cabang, majelis wakil cabang, hingga pengurus ranting. Ada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Ada mekanisme permusyawaratan dan pergantian kepemimpinan.
Namun, NU tidak hanya hidup di dalam struktur. NU hidup dalam hubungan antara kiai dan santri. Tumbuh di pesantren, langgar, masjid, madrasah, majelis taklim, dan rumah-rumah warga.
NU hadir dalam tahlilan, istighotsah, ziarah kubur, maulid, manakib, khataman Al-Qur’an, pengajian kitab, dan berbagai tradisi keagamaan yang diwariskan lintas generasi.
BACA JUGA:NU, Islam, dan Diplomasi Dunia
BACA JUGA:Qanun Asasi, Khazanah Keulamaan yang Menjadi Fondasi Kebangsaan
Banyak orang merasa menjadi bagian dari NU meski tidak memiliki kartu anggota. Mereka tidak pernah menghadiri konferensi cabang. Mereka mungkin juga tidak mengetahui secara persis susunan kepengurusan PBNU.
Namun, cara beragama, tradisi keluarga, sanad keilmuan, dan hubungan batin mereka dengan para kiai menempatkannya dalam lingkungan besar kaum nahdliyin.
Oleh karena itu, NU struktural hanyalah salah satu lapisan dari NU. Di luar struktur tersebut terdapat NU kultural yang jauh lebih luas, cair, dan tidak mudah dikendalikan.
Seseorang mungkin dapat menguasai kantor PBNU. Ia mungkin dapat mengendalikan rapat, program, pernyataan resmi, dan susunan kepengurusan. Akan tetapi, ia belum tentu dapat menguasai cara berpikir dan pilihan jutaan warga NU. Sebab itulah, NU lebih besar daripada PBNU.
BACA JUGA:Rumah Besar NU
BACA JUGA:Mikrolet NU
Otoritas yang Tidak Berpusat di Satu Tangan
Dalam organisasi modern, pemimpin pusat biasanya mempunyai kewenangan untuk mengarahkan seluruh jajaran di bawahnya. Instruksi dari pusat bergerak ke daerah, kemudian dilaksanakan hingga tingkat paling bawah. Namun, NU tidak sepenuhnya bekerja dengan cara seperti itu.
Dalam kehidupan warga NU, otoritas tidak hanya berada pada pemimpin struktural. Otoritas juga berada pada para kiai pesantren, pengasuh majelis taklim, guru ngaji, tokoh lokal, habaib, mursyid tarekat, dan figur-figur yang dipercaya masyarakat.
Seorang ketua umum PBNU dapat mengeluarkan pernyataan politik. Namun, warga NU belum tentu mengikutinya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: