Nusron, 'The Hundred Billion Rupiah Man'

Nusron, 'The Hundred Billion Rupiah Man'

ILUSTRASI Nusron, 'The Hundred Billion Rupiah Man'.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Sampai sekarang Nusron belum menjadi tersangka. Kita hanya bisa membayangkan berapa banyak orang yang geregetan melihat drama itu. Banyak yang siap-siap kecewa drama tersebut berakhir happy ending untuk Nusron alias ia lolos dari status tersangka.

Nusron bukan orang yang muncul dari ruang hampa. Ia memiliki sejarah panjang di lingkungan pergerakan Islam dan politik. Ia pernah menjadi ketua umum PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) pada periode 2000–2003. Pernah menjadi ketua umum GP Ansor, pengurus PBNU, anggota DPR, dan kemudian sekarang menjadi menteri. 

BACA JUGA:Nusron Wahid Terseret Isu OTT KPK di Bogor, Golkar Harap Kadernya Tidak Terlibat

BACA JUGA:Inilah Nama-Nama yang Di-OTT KPK di Bogor

Ia punya kedekatan dengan tradisi organisasi yang berakar kuat pada kultur NU. Justru karena itulah perkara tersebut terasa lebih dramatis kalau akhirnya ia dicokok KPK.

Belakangan beredar spekulasi mengenai kemungkinan hubungan uang tersebut dengan dinamika Muktamar Ke-35 NU di Jombang akhir Agustus lalu. Publik yang mengikuti dinamika muktamar Jombang mafhum terhadap isu ”riswah” dalam perhelatan tersebut. 

Ada kisah mengenai pengumpulan muktamirin di sebuah tempat, lalu diberi surat dukungan untuk calon tertentu, kemudian ada bisyarah ”khomsun” atau Rp50 juta per cabang NU.

Jika kemudian ditemukan bahwa sebagian uang haram itu mengalir untuk kepentingan politik organisasi keagamaan, persoalannya akan menjadi jauh lebih serius. Bukan hanya perkara korupsi, melainkan juga perkara rusaknya kepercayaan terhadap organisasi keagamaan, yang memiliki posisi sangat strategis dalam kehidupan publik Indonesia.

Steve Austin dalam The Six Million Dollar Man diciptakan untuk memburu kejahatan. Nusron Wahid, sebagai pejabat publik, semestinya berdiri di sisi yang sama, menggunakan kekuasaan untuk memberantas praktik kotor, bukan malah menjadi bagian kejahatan.

Jika terbukti ada aliran uang ke arena muktamar, yang hancur bukan hanya reputasi seorang Nusron Wahid. Yang menjadi taruhan adalah kehormatan sebuah tradisi. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: