Umsida Perluas Kolaborasi Global, 12 Pusat Studi Siapkan Program Berdampak

Umsida Perluas Kolaborasi Global, 12 Pusat Studi Siapkan Program Berdampak

Rapat Kerja Pusat Studi DRPM UMSIDA di ruang rapat Rektorat Kampus 1 UMSIDA, Sidoarjo, Selasa, 20 Oktober 2026.-UMSIDA-

SIDOARJO, HARIAN DISWAY - Riset kampus tak cukup berhenti di atas kertas. Hasilnya perlu menjawab persoalan masyarakat dan membuka peluang kerja sama yang lebih luas.

 

Hal inilah yang didorong Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) melalui Rapat Kerja Pusat Studi Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM), Selasa, 20 Oktober 2026.

 

Bertempat di ruang rapat Rektorat Kampus 1 Umsida, kegiatan tersebut menjadi ajang untuk menyusun program kerja tahun akademik 2026/2027. Sebanyak 12 pusat studi dan satu Pusat Unggulan Institusi (PUI) pun turut terlibat.

 

Ada dua fokus utama yang dibahas. Yakni, memperkuat program pengabdian kepada masyarakat dan memperluas kolaborasi internasional. Termasuk mencari peluang pendanaan dari luar negeri.

 

BACA JUGA:Event Kewirausahaan Umsida Entre Vibes Vol. 1 Sukses, Estafet ke Vol. 2!

 

BACA JUGA:Rektor Umsida Buka Entre Vibes Vol. 1, Wadah Kreativitas Mahasiswa dan UMKM Muhammadiyah

 

Melalui rapat itu, setiap pusat studi didorong menyusun program yang terarah. Bukan sekadar menjalankan kegiatan, program yang disusun juga harus menghasilkan solusi dan manfaat nyata bagi masyarakat.

 

Program Menyasar Berbagai Kebutuhan Masyarakat

 

Ketua Bidang Pusat Studi DRPM Umsida Dr. Noor Fatimah Mediawati, SH, MH, menjelaskan bahwa program kerja tahun akademik 2026/2027 mencakup berbagai bidang. Mulai dari penguatan UMKM, digitalisasi, pendidikan, budaya, hingga pemberdayaan perempuan dan anak.

 

Program juga menyentuh kesehatan mental, ketahanan pangan, lingkungan, tata kelola publik, dan rekayasa teknik. Seluruhnya diarahkan untuk mendukung nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan serta pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

 

Sejumlah kegiatan telah disiapkan. Pusat Studi Rekayasa Engineering Sipil, misalnya, akan mendampingi masyarakat dalam penggunaan mesin pengayak padi. Pusat Studi Pangan dan Perikanan menyiapkan pendampingan bagi peternak lebah dan pengembangan produk pangan. 

 

BACA JUGA:PDAM Sidoarjo Resmi Terima Sertifikat Halal dari UMSIDA

 

BACA JUGA:Seru! Mahasiswa PMM Umsida Geber Kirab Budaya di Sidoarjo

 

Sementara itu, Pusat Studi Business, Development, and Digitalization akan membantu pelaku usaha mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikasi halal.

 

Program lainnya mencakup pembentukan bank sampah mini, lokakarya penguatan sekolah dan organisasi perempuan, pelatihan tata kelola keuangan, seminar SDGs, serta penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan masyarakat.

 

”Berbagai program tersebut diharapkan dapat menghubungkan keahlian akademisi dengan kebutuhan di lapangan. Dengan begitu, hasil kerja pusat studi tidak hanya dirasakan di lingkungan kampus, tetapi juga oleh masyarakat, lembaga mitra, dan dunia usaha,” kata Fatimah.

 

Membuka Peluang Hibah Internasional

 

Selain menyusun program pengabdian, Umsida juga mendorong pusat studi memperluas jaringan ke luar negeri. Peluang ini dibahas dalam sesi bertajuk Globalizing Networks: Optimizing Outcomes, Strengthening Recognition.

 

Materi disampaikan Hazim, S.Th.I., M.Si., dosen Program Studi Psikologi UMSIDA yang sedang menempuh studi doktoral di Jerman.

 

BACA JUGA:Tujuh Program Umsida Bantu Warga Kampus dan Masyarakat

 

BACA JUGA:Tak Cuma Jadi Publikasi Ilmiah, Inovasi Riset ICVIAS 2026 Vokasi Unair Bakal Dikomersialkan

 

Hazim mendorong setiap pusat studi dan PUI memetakan peluang kerja sama internasional. Tim juga perlu memilih skema pendanaan yang sesuai dengan bidang keahlian dan kapasitas masing-masing.

 

Sejumlah program hibah diperkenalkan. Di antaranya Erasmus+ Capacity Building in Higher Education (CBHE), Driving Urban Transition (DUT), hibah Australia melalui Australia–Indonesia Institute dan Direct Aid Program (DAP), ASEAN–Australia Centre Grants, serta Public Humanities Projects dari National Endowment for the Humanities (NEH).

 

Peluang tersebut dapat digunakan untuk menyusun riset bersama, menjalin kemitraan dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian luar negeri, serta mengembangkan program pengabdian masyarakat.

 

Beberapa tenggat pengajuan juga menjadi perhatian. ASEAN–Australia Centre Grants dijadwalkan memiliki tenggat pada 28 Oktober 2026. Sementara itu, batas pengajuan pre-proposal Driving Urban Transition jatuh pada 17 November 2026, dan Public Humanities Projects dari NEH pada 16 Desember 2026.

 

BACA JUGA:Hilirisasi Riset dan Peran Strategis Kampus Vokasi

 

BACA JUGA:Invasi Audi di F1: Resmi Sulap Markas Sauber Jadi Kampus Riset Modern

 

Setiap pusat studi perlu memeriksa panduan resmi penyelenggara sebelum mengajukan proposal. Persyaratan, kelayakan pengusul, jadwal, dan kesiapan mitra harus dipastikan agar rencana kerja sama dapat diwujudkan.

 

Kolaborasi Jadi Kunci

 

Direktur DRPM Umsida Prof. Dr. Sigit Hermawan, SE, M.Si., menilai kolaborasi eksternal penting untuk memperkuat peran pusat studi. Utamanya yang berfokus pada pengabdian masyarakat.

 

”Apalagi pusat studi lebih banyak berkegiatan di bidang pengabdian masyarakat, kiranya kolaborasi dan jejaring eksternal atau luar negeri sangat patut dipertimbangkan,” ujarnya.

 

Menurut Sigit, keberadaan 12 pusat studi dan satu PUI menjadi modal untuk membangun kerja sama lintas disiplin. Berbagai persoalan masyarakat dapat ditangani dengan menggabungkan keahlian di bidang sosial, hukum, ekonomi, pendidikan, kesehatan, teknologi, dan lingkungan.

 

Kolaborasi juga dapat menghasilkan inovasi, rekomendasi kebijakan, publikasi ilmiah, serta program peningkatan kapasitas masyarakat. Hasil penelitian pun berpeluang dikembangkan menjadi produk atau solusi yang bisa dimanfaatkan secara luas.

 

BACA JUGA:UniGames Jadi Penentu, 10 Kampus Berebut Gelar Grand Champions dan Beasiswa Rp4,1 Miliar

 

BACA JUGA:Hilirisasi Riset dan Peran Strategis Kampus Vokasi

 

Karena itu, hasil rapat kerja perlu ditindaklanjuti dengan menetapkan prioritas program, memperkuat kemitraan, memetakan sumber pendanaan, dan menyusun target yang terukur.

 

Pusat Studi Harus Memberi Dampak Nyata

 

Wakil Rektor I Umsida Prof. Dr. Hana Catur Wahyuni, ST, MT, berharap pusat studi menjadi salah satu penggerak utama kemajuan universitas.

 

”Pusat Studi harus mampu mengintegrasikan keilmuan lintas disiplin, menghasilkan inovasi berbasis teknologi, menjunjung nilai-nilai Islam Berkemajuan, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

 

Hana menekankan, keberhasilan pusat studi tidak cukup diukur dari jumlah kegiatan atau luaran penelitian. Lebih dari itu, hasil kerja akademisi harus mampu menjawab kebutuhan dan memberikan manfaat yang dirasakan masyarakat.

 

BACA JUGA:Menjembatani Kampus dan Industri: Dari Link and Match Menuju Co-Creation

 

BACA JUGA:Urgensi Kuliah Gratis: Mencegah Korupsi dari Pintu Kampus

 

”Dengan demikian, Pusat Studi dapat menjadi salah satu pilar strategis untuk mewujudkan Umsida sebagai perguruan tinggi yang adaptif, unggul, mandiri, dan berdampak,” tuturnya. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: