Perang Dunia dari Dapur Ibu
ILUSTRASI Perang Dunia dari Dapur Ibu.-AI/ARYA-HARIAN DISWAY-
Cadangan beras diperkuat. Ketahanan energi menjadi prioritas.
Program-program itu mempunyai tujuan resmi masing-masing. Pelaksanaannya tetap pantas diawasi dan dikritik.
Tidak perlu menganggapnya persiapan perang rahasia. Namun, dalam keadaan darurat, kemampuan militer, pangan, energi, dan logistik memang harus bekerja bersama.
Pesawat tempur membutuhkan bahan bakar. Prajurit membutuhkan makanan. Rumah sakit membutuhkan listrik.
Kedaulatan tidak cukup dijaga dengan persenjataan jika kehidupan masyarakat ikut lumpuh. Vegetius meninggalkan pepatah, si vis pacem, para bellum, ’jika menginginkan perdamaian, bersiaplah menghadapi perang’. Tentu kesiapan tidak boleh menjadi alasan mengabaikan diplomasi.
Saya kembali teringat ibu dan istri saya. Mereka tidak sedang menghitung siapa yang menang. Mereka ingin keluarga tetap aman.
Para pemimpin mempunyai ruang strategi. Para jenderal mempunyai peta operasi. Ibu-ibu mempunyai daftar belanja.
Dunia belum mempunyai tanggal pasti kapan Perang Dunia Ketiga. Namun, makin banyak negara yang memperhitungkan kemungkinan terburuk.
Para pemimpin punya tombol peluncur roket. Ibu punya tombol rice cooker. Celakanya, jika tombol pertama ditekan sembarangan, tombol kedua belum tentu menyala lagi. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: