One Day Escape ke Pantai Watu Leter, Malang Selatan, Nikmati Ombak dan Pasir yang Memikat

Kamis 28-07-2022,14:09 WIB
Reporter : Guruh Dimas Nugraha
Editor : Retna christa

Oleh:
Slamet Mulyono
Traveler asal Sidoarjo


NAMA Watu Leter sepertinya diambil dari tebing batu yang berada di lepas pantai. Tebing itu memiliki cekungan mendatar di ujungnya. Saya melihatnya dari media sosial dan tertarik. Maka, pada momen liburan sekolah silam, saya mengajak anak dan istri ke sana.

Pada 26 Juni 2022, seusai salat subuh, kami bersiap-siap berangkat. Rumah kami di kawasan Balongbendo, Sidoarjo ujung barat yang berbatasan dengan Mojokerto. Lihat di Google Maps, jaraknya 161 km. Jika ditempuh dengan sepeda motor, lama perjalanan 3 jam 56 menit.

Perjalanan dengan suasana pagi, kami ditemani oleh semilir angin dan udara dingin. Di jalan, rasa kantuk menyergap. Kami memutuskan berhenti sejenak di daerah Lawang. Berhenti di sudut pasar dan menikmati segelas kopi. Demi keamanan dan kenyamanan.

Sekitar sejam memudian, kami melanjutkan perjalanan. Akses menuju pantai cukup mudah. Ke arah daerah Sumbermanjing Wetan. Akses jalan sudah beraspal dan mulus. Kami melewati pegunungan selatan dan jalan yang berkelok-kelok. Juga terlihat hamparan sawah yang memisahkan jalan raya dengan perbukitan. Sekitar satu kilometer ke arah timur dari jembatan di Bajulmati, terdapat pintu masuk menuju Pantai Goa Cina.

Perjalanan kami lanjutkan dengan melewati jalan yang belum begitu mulus. Berkerikil. Namun masih dapat dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Tapi harus berhati-hati.

Sekitar pukul sembilan, kami sampai di kawasan menurun. Motor diparkir di situ. Itulah areal pantai. Tinggal berjalan kaki selama 10 menit sudah sampai.

Katanya, Pantai Watu Leter bisa juga ditempuh dari Goa China. Dan medannya tidak terlalu sulit. Jika telah tiba di Pantai Goa China, pengunjung bisa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke arah barat sejauh 100 meter. Jalurnya berupa jalan setapak. Dan hanya butuh waktu 25 menit berjalan pengunjung akan sampai di Pantai Watu Leter.


-Slamet Mulyono untuk Harian Disway-

Begitu menyapa pantai, rasa lelah perjalanan terbayar lunas. Pemandangannya luar biasa cantik. Pantai itu dikelilingi tebing-tebing tinggi seperti raksasa hijau yang tidur tengkurap. Burung-burung camar beterbangan di atas ’’punggungnya’’. Beberapa turun, menukik, membelah air laut.

Saat kami tiba, air masih pasang. Namun ketika sudah pukul sebelas, air surut. Terlihat batu-batu karang yang indah. Rupanya, meski pantainya berpasir, di bawah lautan adalah gugusan batu karang.

Hamparan pasir terbentang landai serta luas. Membuat pengunjung leluasa melakukan aktivitas apa saja. Bermain dan bersantai atau menikmati deburan ombak dengan memesan kelapa muda.  Pasirnya berwarna putih kecokelatan. Lembut. Seperti pantai-pantai di Bali. Kita bisa berjalanan kaki di atasnya tanpa menggunakan alas kaki.

Deburan ombaknya cukup besar ketika berada di tengah. Namun ketika mendekat ke bibir pantai, ombak tersebut jadi tenang. Menyisakan buih-buih putih dengan suara yang bergemuruh.


--

Pantai Watu Leter terbuka 24 jam, 7 hari seminggu untuk wisatawan. Tiket masuknya hanya Rp 10 ribu. Belum termasuk biaya parkir kendaraan. Ada pula fasilitas khusus berupa areal camping. Tiket masuknya Rp 10 sampai 15 rb saja. Dalam areal tersebut ada pemandangan menawan berupa jajaran pohon-pohon cemara. Sayang, saya tak sempat memotretnya.

Pantai ini sudah dilengkapi berbagai fasilitas. Warung-warung makan, musala, hingga penginapan. Jika ingin memesan penginapan, tinggal menghubungi pengelola saja. Lokasi penginapannya cukup dekat dengan pantai.

Meski tersedia penginapan, tak sedikit wisatawan memilih mendirikan tenda dekat pantai. Cukup menarik, karena mereka bisa membuka bilik tenda dan langsung menikmati suasana pantai.

Saya bisa bayangkan, camping akan seru ketika sore atau pagi. Sebab, sunset dan sunrise dapat tersaji langsung di depan mata. Seperti bola jingga yang memerah, muncul dari deru ombak pantai. Kemudian memancar, menerangi atau membuat warna unik pada batuan karang dan rerumputan hijau. Tapi kalau malam kok sepertinya serem ya. Ombaknya itu lho…

Kata warga setempat, terdapat pusat pelestarian penyu dan ekowisata di kawasan pantai. Jika pas jadwalnya, wisatawan dapat menyaksikan proses pelepasan tukik alias bayi penyu ke alam bebas. Bahkan bisa melihat penyu sedang bertelur di pasir. Sayang, waktu kami berkunjung, tidak ada jadwal pelepasan penyu.

Kami menikmati suasana indah Pantai Watu Leter hingga sore tiba. Sebelum gelap, kami meninggalkan kawasan itu. Tak disangka, hujan turun deras. Tak juga reda hingga kami tiba di rumah. Namun, seperti yang saya katakan, segala lelah itu terbayar lunas. Kami puas. Pantai Watu Leter memang sangat menawan. (*)


POHON CEMARA berbaris rapi di kawasan hutan yang terletak di kawasan Pantai Watu Leter. Selain menjadi spot foto yang menarik, hutan itu membuat suasana lebih sejuk dan rindang. -Slamet Mulyono untuk Harian Disway-

Kategori :