Envi.ro.mental, Pameran Duo Sekar-Peni di Sumenep (1): Memancarkan Visible Soul di Pondok Pesantren Peraih Kalpataru

Sabtu 30-12-2023,11:12 WIB
Reporter : Heti Palestina Yunani
Editor : Heti Palestina Yunani

HARIAN DISWAY - Memilih tempat yang tak biasa untuk menggelar sebuah pameran seni rupa, dua perupa Sekartaji Suminto dan Peni Citrani Puspaning memilih Pondok Pesantren (PP) Annuqayah, Sumenep, sebagai ruang pamer. Bertajuk Envi.ro.mental, keduanya membawa pesan seputar manusia dan lingkungan.

Betapa takjubnya Kiai M Faizi sebagai tuan rumah pameran perupa dari dua kota: Surabaya dan Yogyakarta. Sebab baru kali ini pondok pesantrennya menjadi tempat memajang karya seni rupa. Tak heran dalam sambutannya, pengasuh PP Annuqayah Sumenep itu menyampaikan kebungahannya atas event tersebut.

BACA JUGA: Mr D dalam Pameran Bermain dan Mempermainkan: Memproses Informasi Visual dengan Kodeisme

Ia berbicara tentang stigma yang diberikan masyarakat pada pesantren. “Bahwa pesantren itu kuno, enggak modern, yang dipelajari hanya kitab-kitab Alquran dan hadis. Dengan adanya pameran mereka berdua ini diharapkan bisa memicu kreativitas para santri agar terus mengembangkan diri lewat bakat-bakat yang dimiliki,” katanya.
Sekartaji Suminto dan Peni Citrani Puspaning menyapa hadirin yang menyaksikan pembukaan pameran mereka berdua berjudul Envi.ro.mental yang digelar di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk Guluk, Sumenep. -Sekar-Peni-

Apalagi, pembukaan pameran yang berlangsung di ruang Perpustakaan Madaris 3 di kompleks PP yang berlokasi di Kecamatan Guluk Guluk itu dilakukan oleh penyair berjuluk Celurit Emas, D. Zawawi Imron. Sastrawan yang tinggal di Sumenep itu dengan terus terang memuji Sekar-Peni yang berasal dari luar Sumenep. Pamerannya di PP pula. 

Sebenarnya pameran seni rupa di PP bukan hal yang mengherankan di Madura. Menurut Zawawi, setidaknya sebelumnya dia pernah membuka pameran di salah satu PP di Pamekasan. Tapi seniman yang berpameran berasal dari Pulau Madura. “Nah ini bedanya Sekar dan Peni karena pameran di pondok oleh seniman dari luar Madura baru kali ini,” katanya.

Selain memuji keduanya, Zawawi memberi semangat agar para santri mau belajar kitab lain selain kitab Alquran dan hadits. ”Semisal kita berkesenian itu agar kehidupan menjadi lebih berwawasan sehingga membawa kegembiraan dalam menjalaninya,” ujarnya. Zawawi berpesan agar jangan ragu mengembangkan bakat yang dimiliki dan jangan ragu untuk mengetahui ilmu-ilmu yang lain di PP.

Buat Sekar-Peni, kesediaan sastrawan Madura yang juga piawai melukis itu sangat membuat pameran makin berarti. Mereka takjub dengan ungkapan Zawawi yang beberapa kali mengatakan bahwa berkarya seni rupa mesti bebas lepas tanpa terframe oleh mahzab-mahzab tertentu. “Kata Abah Zawawi, dengan begitu visible soul bisa memancar dengan sendirinya,” ungkap Peni menirukan tuturan Zawawi.
Penyair dan sastrawan ternama Indonesia dari Sumenep, D. Zawawi Imron yang membuka pameran Envi.ro.mental. -Sekar-Peni-

Buat Sekar-Peni pemilihan Annuqayah bukan tanpa alasan. Annuqayah adalah satu-satunya pesantren di Indonesia yang mendapat anugerah Kalpataru atas program dan aktivitasnya akan kepedulian pada lingkungan. “Jika melihat karya-karya kami yang tentang manusia dan lingkungan, Annuqayah adalah tempat yang tepat untuk mendukung kami sebagai seniman,” terang Peni. 

Salah satu visi dan misi pesantren ini juga selaras dengan gagasan pameran mengenai manusia dan lingkungan. Lebih-lebih jika melihat sosok Kiai M. Faizi sendiri sebagai pimpinan pondok dan anggota dewan pengasuh yang punya pemikiran sejalan dengan Sekar-Peni. Tak banyak yang tahu juga bahwa ia seorang pemerhati dan penulis buku tentang lingkungan.
No More Ware karya Peni Citrani Puspaning. --

Karena itu ide berpameran di Annuqayah sangat disambut Kiai M. Faizi dengan tangan terbuka. Bahkan selain karya Sekar-Peni, karya para santri turut dipajang untuk menyemangati mereka berkarya. “Para santri telah dididik sejak dini agar peduli terhadap lingkungannya. Tak hanya dalam konteks pembelajaran di kelas tapi juga pengimplementasiannya dalam keseharian,” beber Sekar.

Sesuai tema, keduanya mengusung karya-karya yang menyentuh persoalan lingkungan yang telah menjadi persoalan global. Alam memiliki bahasa tersendiri dalam menyampaikan isyarat-isyarat akan kegagalan manusia menjaga dan merawat lingkungannya. Isyarat-isyarat yang sebenarnya merupakan kode buat manusia untuk lebih awas dalam menggunakan sumber daya alam yang tersedia.
Rebutan kaya Sekartaji Suminto. --


BACA JUGA: 13 Perupa dalam Diversity Maknai Pameran ke-12 di Hari Jadi Teh Villa Gallery yang Ke-2

Pesan mereka itu makin dikuatkan oleh tiga penulis pameran yakni Kiai M. Faizi, Prof Dr Johan Salim MSi, serta jurnalis Heti Palestina Yunani. Didukung ketiganya yang meulis dalam perspektif berbeda, keduanya mengingatkan tentang sikap abai dan mudah terlena akan kemudahan yang manusia sendiri ciptakan tentang teknologi dan politisasi lingkungan.

Padahal itu menjadi bumerang bagi hancurnya ekosistem berikut biota yang ada di dalamnya. Tanpa disadari manusia menciptakan senjata pemusnah masalnya sendiri. “Kekerasan pada sesamanya, binatang dan lingkungan adalah salah satu dampak dari ketidakmampuan manusia dalam mengelola kekuatan yang dimilikinya sebagai pemangku atas stabilitas keamanan ekosistem,” beber Peni. (Heti Palestina Yunani)

Kategori :