Nikmati Senja Jingga di Pantai Lorena Lamongan

Senin 18-03-2024,19:34 WIB
Reporter : Guruh Dimas Nugraha
Editor : Heti Palestina Yunani

LAMONGAN, HARIAN DISWAY - Paciran, Lamongan, menyimpan beberapa destinasi wisata menarik. Mulai dari religi, wisata keluarga hingga wisata alam. Salah satu spot yang indah adalah pantai Lorena. Lokasinya sekitar dua kilometer dari Wisata Bahari Lamongan (WBL).

Senja jatuh di pantai lepas. Semburat jingga dari bola surya memunculkan kilau berkilatan bak berlian, mengambang di tiap gelombang.

Laut surut meski tak sepenuhnya. Batuan karang berjajar kokoh di sepanjang pantai. Desir angin lembut membisik, di sela riuh tawa kanak-kanak dengan jaring kecil di tangannya. Menangkap ikan dan rajungan karang.


Nikmati Senja Jingga di Pantai Lorena Lamongan. Matahari jingga di Pantai Lorena saat senja. Berkunjung ke pantai tersebut paling cocok ketika senja tiba. Suasananya syahdu.-Guruh Dimas Nugraha-

Itulah pantai Lorena, yang terletak di Paciran, Lamongan. Lorena termasuk satu dari deretan pantai berkarang yang berjajar di sepanjang pantura.

BACA JUGA: Tak Perlu ke Luar Negeri! Ini Keindahan Pulau Bintan yang Bisa jadi Opsi buat Liburan Nataru

Berkunjung ke pantai itu bagi saya sama saja dengan mengakrabi masa kecil. Dulu, saya pernah menghabiskan masa kanak-kanak di desa Penanjan, yang terletak persis di depan pantai Lorena.

Pada masa lalu Pantai Lorena hanya dianggap sebagai pantai biasa. Ketika laut pasang hanya terlihat seonggok pohon bakau yang menjulang tinggi. Tak ada bakau lain yang dapat tumbuh. Hanya pohon itulah satu-satunya.

Namun kini, pohon itu tak lagi dapat dijumpai. Karena telah tumbang akibat ulah orang tak bertanggung jawab. Pantai itu dulu tak bernama.

Terlebih ketika Tanjung Kodok, yang terletak 1 kilometer sebelah timur, masih dibuka sebagai wisata pantai yang murah meriah, dengan pemandangan batu karang raksasa yang bentuknya mirip katak. Tanjung Kodok lebih banyak menyita perhatian para wisatawan.


Nikmati senja jingga di Pantai Lorena Lamongan. Janardhana Dipa Gantari (kanan) dan anak-anak yang berkunjung ke Pantai Lorena, Lamongan. Jangan lupa mengenakan alas kaki saat turun ke karang pantai.-Guruh Dimas Nugraha-

Ketika itu hanya ada satu-dua pedagang yang berjajar di sepanjang jalan pantai Lorena. Menjajakan makanan, buah siwalan dan minuman legen.

BACA JUGA: Diklaim sebagai Sepetak Tanah Surga di Indonesia, Ini 7 Rekomendasi Tujuan Keren di Labuan Bajo

Namun setelah Pemkot Lamongan membangun WBL dan Tanjung Kodok diubah menjadi resort elit, maka warga memanfaatkan pantai itu sebagai alternatif wisata pantai yang gratis.

Karena letaknya berada tepat di sebelah utara desa Penanjan, maka pantai itu dinamakan Lorena. Singkatan dari Lore Nanjan.

Sebagai wisata yang gratis dan menarik, para pedagang semakin banyak berjejer di situ. Rata-rata penjualnya adalah warga Penanjan.

Tak jarang wisatawan singgah sejenak untuk menikmati makanan dan minuman, sembari melihat pemandangan laut yang sejuk. Pengunjung dapat pula turun ke pantai. Menikmati serunya berjalan di atas karang dan merasakan gelombang laut.

Namun, ada baiknya memakai alas kaki. Sebab, karang begitu tajam dan sebagian lagi berlumut. Tentu sangat licin. Bila tidak berhati-hati, dapat tergores atau terpeleset.


Nikmati senja jingga di Pantai Lorena Lamongan. Keindahan senja di Pantai Lorena. Kawasan wisata yang terletak di Paciran, Lamongan.-Guruh Dimas Nugraha-

Dalam tubuh karang yang terpendam air laut, kita dapat melihat kerang, ikan, atau rajungan kecil yang melintas, kemudian bersembunyi di sela-selanya.

Selain itu, karang di sepanjang pantai adalah habitat siput laut. Terdapat ratusan, bahkan ribuan siput yang terlihat merambat perlahan.

Masyarakat setempat menyebutnya "sipan". Biasanya, sipan-sipan dikumpulkan dalam wadah atau kantung plastik, kemudian direbus dengan bumbu.

Daging sipan dikeluarkan dari rumahnya dengan ditusuk menggunakan peniti atau tusuk gigi. Lantas dihidangkan di atas daun jati. Sangat menggugah selera.

Di pantai Lorena, di sisi sebelah timur laut lepas, terdapat pemandangan kapal berukuran besar. Kapal itu digunakan sebagai kapal pengeboran lepas pantai di tengah laut.

Ada juga pemandangan masjid Tanjung Kodok dari kejauhan. Masjid tersebut kerap dipakai untuk memantau hilal menjelang hari raya Idulfitri.

Sisi sebelah barat, terdapat pemandangan daratan yang menjorok ke laut. Rumah-rumah warga, juga menara masjid yang cukup tinggi terlihat menjulang dari kejauhan.

BACA JUGA: Serunya Menikmati Pantai Kondang Merak di Malang Selatan, Tak Perlu Jauh-Jauh ke Bali!

Meski sudah tahu bahwa jika turun ke pantai harus memakai alas kaki, saya tetap nekat tak beralas kaki.

Sebab, saya ingin bernostalgia dengan masa kecil. Mengenang ketika bersama kawan dan para sepupu berenang di pantai itu dengan kaki telanjang. Merasakan ombak laut yang datang silih berganti. Kadang rendah, kadang tinggi.

Hasilnya dapat diduga. Setelah meninggalkan pantai untuk menuju ke sebuah warung bakso di pinggir jalan, kaki saya terasa perih.


Nikmati senja jingga di Pantai Lorena Lamongan. Di sebelah timur Pantai Lorena merupakan kawasan pantai Tanjung Kodok. Kini, wisata tersebut telah berubah menjadi resort elit.-Guruh Dimas Nugraha-

Terdapat tiga sobekan di telapak kaki. Tentu tergores karang, entah karang sebelah mana. Selain bahaya karang tajam dan licin, perlu diwaspadai munculnya hewan-hewan laut seperti bulu babi. Warga setempat menyebutnya tayem.

Meski sangat jarang tampak di pantai, namun jika bulu-bulu tajamnya terkena tubuh manusia dapat menyebabkan luka yang sangat nyeri.

Bulunya bahkan dapat menembus dan masuk ke dalam tubuh. Namun, jangan khawatir. Warga Paciran punya penangkalnya. Yaitu urin atau air seni.

Jika seseorang tertancap bulu babi, cukup disiram dengan air urin. Maka bulu-bulu yang menembus kaki dapat terlepas dengan sendirinya.

BACA JUGA: Syahdu Senja di Pulau Lusi Sidoarjo

Ajaib memang. Metode penyembuhan berbasis kearifan lokal yang tak memakan biaya, dan jauh lebih baik daripada harus ke rumah sakit untuk menjalani operasi bedah.

Jika datang ke pantai Lorena, datanglah ketika laut surut. Sebab, jika sedang pasang, tak memungkinkan untuk turun ke bawah.

Karena kita tak tahu mana karang yang terjal atau landai. Juga tak tahu bagian mana yang licin atau tidak. Karena seluruhnya telah tertutup air.

Untuk menangkap momen paling syahdu, datanglah ketika hari menjelang senja. Suasana pantai dan ombak kemerlip jingga membuat siapa saja terpesona. (Guruh Dimas Nugraha)

Kategori :