Kampus Gaib Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) Wisuda Sarjana Pertama

Selasa 25-02-2025,06:33 WIB
Oleh: Arif Afandi

Kok bisa? Ya –seperti yang telah disebutkan– kampus itu tak perlu gedung rektorat sendiri, tak butuh ratusan hektare lahan, dan tak usah membangun puluhan tower untuk kelas kuliah mahasiswa. Hanya ada 1 ruang rektor, 2 wakil rektor, dan 2 ruang pertemuan dengan kapasitas 20 orang.

Tak lebih dari 15 orang yang sedang berkantor di sana. Suasananya tidak seperti dalam kampus perguruan tinggi. Lebih seperti kantor perusahaan platform digital. Terbuka seperti umumnya perusahaan industri kreatif.

”Ini memang bukan kampus. Ini semacam melting point,” kata Lely Pelitasari Soebekty, wakil rektor bidang administrasi, keuangan, sumber daya insani, dan kerja sama. 

BACA JUGA:Catatan Ikut Kampus Merdeka di Aiola Eatery

BACA JUGA:Menciptakan Ruang Aman Bagi Perempuan di Lingkungan Kampus

Selain Lely, Rektor Kamaludin dibantu dua wakil lainnya. Mereka berdua adalah Dr Wonny Ahmad Ridwan dan Prof Dr Jaswar Koto. Masing-masing sebagai wakil bidang kemahasiswaan dan layanan batuan belajar serta wakil bidang R&D dan digital advancement.

”Ini memang bukan kampus konvensional seperti dipahami generasi analog. Ini kampus digital yang bisa memberikan akses kepada siapa saja dan di mana saja. Menjangkau sampai perdesaan. Menjangkau yang tak terjangkau,” tutur Kamaludin.

Meski baru berdiri empat tahun, UICI telah menunjukkan pencapaian mengesankan. Saat ini perguruan tinggi digital itu memiliki 7 program studi. Enam di antaranya telah terakreditasi ”Baik”. 

BACA JUGA:Guru Besar hanya untuk Kampus Besar?

BACA JUGA:Implementasi Program Sekolah Anak Bahagia dalam Kegiatan Magang Merdeka Belajar Kampus Merdeka

Enam itu adalah program studi bisnis digital, sains data, informatika, komunikasi digital, teknologi industri pertanian, dan teknik industri. Sementara itu, yang sedang dalam proses akreditasi adalah program studi digital neuropsikologi.

UICI dirancang untuk menjadi perguruan tinggi yang inklusif. Menembus batas geografis, sekat sosial, dan ekonomi. Penggunaan teknologi digital memungkinkan para mahasiswa bisa mengikuti perkuliahan dengan biaya murah dan dari mana saja.

Perguruan tinggi itu, kata Kamaludin, dirancang untuk menghadapi dunia yang berubah dengan cepat. ”UICI hadir dengan semangat revolusioner di bidang pendidikan. Kita tidak ingin terjebak dengan sistem pendidikan yang kaku, analog, dan tidak sesuai dengan kebutuhan zaman,” katanya dalam pidato dies.

Menurutnya, saat ini terdapat kebutuhan akan 9 juta talenta digital dengan 2 juta talenta leadership untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. UICI hadir untuk ikut ambil bagian dalam memenuhi kebutuhan itu. 

Ketika negara sedang melakukan pengetatan anggaran, perguruan tinggi digital pertama itu bisa menjadi alternatif dalam mencerdaskan anak bangsa. Bagaiman tidak. Lha wong biaya untuk mengikuti kuliah di kampus tersebut hanya Rp 2,5 juta per semester. 

Tampaknya, itulah sistem pendidikan tinggi yang sedang dibutuhkan dalam dunia yang berubah dengan cepat ini. Pendidikan tinggi yang tidak hanya berpusat di kota-kota besar. Tapi, juga bisa menjangkau perdesaan yang sedang membutuhkan talenta sumber daya manusia untuk meengembangkan industri. 

Kategori :