Makna Tawur Kesanga, Upacara Penyucian dalam Perayaan Nyepi di Pura Segara Kenjeran Surabaya

Sabtu 29-03-2025,20:42 WIB
Reporter : Afitra Devi
Editor : Doan Widhiandono

BACA JUGA: Perayaan Imlek 2025, Harmoni Merah dan Emas

Dalam rangkaian ritual Tawur Kesanga, terdapat prosesi khusus yang melibatkan persembahan darah sebagai simbol penyucian dan pengembalian keseimbangan alam. 


Persembahan darah anak ayam yang baru menetas kepada buta kala oleh Jeru Mangku Ketur Pastika selaku Pinandita Pura Segara-Boy Slamet-Harian Disway

Persembahan itu dilakukan dengan menyembelih hewan tertentu sesuai dengan tingkatan upacara. 

Salah satu bentuk persembahan yang dilakukan adalah pemotongan leher anak ayam yang baru lahir menggunakan keris pusaka pura.  

"Keris yang digunakan dalam upacara ini merupakan inventaris pura yang memang dipakai untuk ritual Buta. Jadi kita persembahkan darah dari anak ayam yang baru lahir, yang lehernya dipotong menggunakan keris sebagai persembahan kepada Buta," ujar Jeru Mangku Ketut Pastika, Pinandita Pura Segara.  

BACA JUGA: 5 Tradisi Unik Ramadan Di Berbagai Penjuru Dunia

BACA JUGA: 4 Tradisi Ramadan di Negara Minoritas Muslim

Ia juga menjelaskan bahwa tingkat persembahan dalam Tawur Kesanga memiliki simbol tersendiri. 

"Yang digunakan adalah anak ayam yang baru lahir. Jika tingkatannya lebih tinggi, bisa menggunakan anak babi. Alasannya, sifat Buta sendiri dilambangkan dengan ayam," tambahnya.

Perayaan Tawur Kesanga menjadi penutup Tahun Saka yang lama, sekaligus persiapan memasuki Tahun Saka 1947 dengan hati yang bersih. 

Ritual itu bukan sekadar tradisi, tetapi juga bentuk penyucian diri dan alam semesta agar keseimbangan tetap terjaga.  

Setelah prosesi itu, umat Hindu memasuki Hari Raya Nyepi, menjalankan Catur Brata Penyepian selama 24 jam. Mulai pukul 6 pagi hingga 6 pagi keesokan harinya.

Dalam keheningan dan refleksi, mereka merenungi makna kehidupan, menyucikan jiwa, serta memperbarui tekad untuk menjalani tahun baru dengan lebih baik. (*)

Kategori :