HARIAN DISWAY - Sebuah video lama yang menayangkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia viral di platform X setelah banjir bandang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam beberapa hari terakhir.
Potongan video tersebut berisi pernyataan Bahlil saat memaparkan agenda hilirisasi di Indonesia pada Jakarta Geopolitical Forum IX/2025, 4 Juni lalu.
Dalam video berdurasi satu menit itu, Bahlil menyinggung bagaimana negara-negara yang kini berstatus maju pernah membabat hutan dan mengeruk sumber daya alam mereka sendiri.
BACA JUGA:Terkuak! Penyebab Banjir Bandang di Sumatera, Pakar ITB Bilang Begini...
BACA JUGA:BMKG: Ex Siklon Tropis Senyar Bisa Menguat Kembali, Sumatera Waspada
Bahlil menyebut praktik tersebut dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi negara pada masa awal industrialisasi mereka.
Akibat dari pernyataannya tersebut, respons warganet pun bermunculan, bahkan sebagian besar bernada kritik.
Salah satu komentar berasal dari August Hnedri. Melalui akun @Hnedri, ia menulis, “Pak Bahl, kita berlaku Ihsan bukan terhadap sesama manusia saja… Tapi sebagai manusia cerdas kita juga berlaku Ihsan terhadap makhluk lain. Berlaku Ihsan terhadap rumah gajah, harimau, dan burung2 cantik yang tinggal di Hutan. Salam cerdas, Pak.”
Dalam video yang sama, Bahlil turut mempertanyakan mengapa pemanfaatan sumber daya alam oleh Indonesia kerap menimbulkan kritik.
BACA JUGA:Dampak Banjir di Sumatera: Jalan Terputus, Jembatan Rusak, dan Ratusan Warga Terisolasi
BACA JUGA:Update Banjir Bandang Sumatera: 174 Korban Meninggal, 79 Orang Hilang, Akses Jalan Terputus
Negara maju, kata Bahlil, telah melakukan hal yang serupa ketika membangun pondasi ekonomi mereka puluhan tahun lalu.
“Negara-negara lain pada saat era 40an, 50an dan 60an, mereka-kan banyak hutan juga, mereka juga punya tambang banyak, semua mereka punya banyak,” ujar Bahlil dalam video tersebut.
Ketika itu, lanjut Bahlil, negara-negara maju tersebut masih berada dalam tahap berkembang.
“Maka mereka mengambil sumber daya alam mereka, hutannya dibabat, tambangnya diambil dan mungkin lingkungan mereka saat itu tidak lebih baik dari apa yang kita lakukan sekarang,” ucapnya.