Cerita dari Rusia (3-Habis): Murah Senyum Dikira Ngobat

Jumat 06-02-2026,07:00 WIB
Reporter : Dr. Probo Darono Yakti
Editor : Guruh Dimas Nugraha

Setelah itu, kami menghabiskan waktu di sebuah kafe. Masing-masing saling bertukar cerita. Sesama delegasi SYF 2025 tentu punya banyak kisah yang dapat dibagikan.

Kemudian kami bergegas menuju hotel dengan taksi. Beristirahat. Sekaligus berkemas untuk pulang esok hari. 

Pada 6 Desember, kami berangkat dari hotel ke stasiun Metro Moskow. Kami menyempatkan singgah di beberapa tempat. Salah satunya Masjid Katedral Moskwa. Berada di kawasan Olimpiade atau Olimpiyskiy Sports Complex. 

Masjid itu cukup besar. Mampu menampung ratusan jamaah. Dibangun tahun 1904 untuk mengakomodasi kaum Tatar. Yakni orang-orang berbahasa Turki yang tinggal di sekitar Asia Timur. 

BACA JUGA:Solo Traveling, Cara Baru Menikmati Hidup dan Kebebasan

BACA JUGA:Travel Journaling: Cara Kreatif Menyimpan Kenangan Perjalanan yang Lebih Berkesan

Pada 11 September 2011, bangunan masjid itu sempat dihancurkan. Namun, pada 2015 diresmikan kembali. Dengan bentuk arsitektur yang berbeda dan menghadap Kabah.

Di masjid itu ada sudut yang cukup unik. Di situ terdapat mesin vending token machine yang dapat mengeluarkan koin token.

Koin itu bergambar masjid Katedral Moskow. Harganya hanya 200 Rubel atau Rp42.000. Saya simpan saja. Karena begini-begini saya itu seorang numismatik. Kolektor uang dan token.


Katedral Moskow yang dibangun sejak 1904.-@piter_guide-Instagram

Setelah menempuh perjalanan dari Rusia, saya tiba pada 7 Desember di Jakarta. Menginap semalam. Esoknya, menuju Surabaya. Kembali bersua dengan kota saya tercinta.

BACA JUGA:Wajah Baru Newfoundland dan Labrador, Infrastruktur Raksasa Buka Akses Esberg

BACA JUGA:Swedia dan Wisata Sleep Tourism, Manfaatkan Pesona Alam dan Musim Dingin

Itulah perjalanan singkat saya di Rusia. Beruang Merah adalah negara pertama empat musim yang saya kunjungi.

Penerbangan melelahkan terbayar dengan pengalaman luar biasa. Bertemu teman, relasi baru, budaya baru, dan salju.

Semoga suatu saat dapat melawat lagi ke sana. Jika terkabul, saya tentu sudah siap. Karena saya sudah belajar untuk tidak tersenyum. (*)

Kategori :