Artinya, menyelamatkan dan melindungi jiwa dari kematian perlu menjadi langkah strategis dalam hubungan kemanusiaan utama. Melindungi yang hidup menjadi bagian dari kerja peradaban. Tidak hanya itu, laku tersebut adalah pewujudan dalam nilai utama hak asasi manusia.
WELAS ASIH
Lebih dari itu, menjaga, melindungi, dan melestarikan kehidupan manusia merupakan pokok dari kemuliaan manusia (al-karamah al-insaniyyah). Manusia menjadi makhluk terhormat karena Tuhan membekali mereka dengan akal dan nurani.
Akal dan nurani itulah yang menuntun manusia pada jalan kebenaran (sirat al-mustaqim). Jalan kebenaran itu tecermin dari sikap welas asih.
Karen Armstrong menyebut bahwa tradisi compassion (welas asih) menjadi jantung semua tradisi agama dan kepercayaan. Welas asih dengan demikian perlu menjadi mantra abadi dalam diri manusia beriman.
Welas asihlah yang mampu menyibak (baca: membedakan) manusia dengan makhluk lain. Saat welas asih bersemayam dan pikiran dan tindakan, kehidupan kemanusiaan penuh dengan cinta, kasih sayang, kebajikan, dan kemaslahatan.
Sebaliknya, saat jiwa welas asih hilang dalam diri manusia, yang ada hanyalah pertikaian, permusuhan, pembunuhan dan kejahatan lainnya.
Maka, mengembalikan sikap dan jiwa welas asih perlu menjadi agenda kebangsaan. Kebangsaan yang dipenuhi dengan nalar kekerasan perlu diobati dengan laku kemanusiaan. Salah satu laku kemanusiaan adalah menumbuhkan tradisi pengendalian diri.
Abdul Mu’ti (2026) menyebutkan, banyak persoalan sosial terjadi bukan karena kurangnya pengetahuan, melainkan lemahnya pengendalian diri.
PENGENDALIAN DIRI DAN ILMU
Pengendalian diri merupakan self-realise yang mampu menyelamatkan semua. Tangan dapat terkendali untuk tidak melakukan kerusakan dan kejahatan; lisan dapat menjadi penyembuh luka batin dan menumbuhkan semangat kehidupan; dan kekuasaan dalam mewujud sebagai bentuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Selain pengendalian diri, nalar kekerasan perlu terurai dengan ilmu pengetahuan. Sayidina Ali pernah menyebut al-insanu a’daau maa jahilu (musuh terbesar manusia adalah ketidaktahuan/kebodohannya).
Ketidaktahuan/kebodohan hanya akan menjerumuskan manusia dari penciptaan yang sempurna (fi ahnasani taqwim) menuju pada kenistaan/kehinaan (fi asfala safilin) (Q.S. At-Tin: 4-5).
Kondisi kebodohan akan menjadikan manusia tunduk pada perintah tanpa ilmu. Ketidaktahuan itulah yang menjadikan manusia sering kali melupakan misi kemanusiaan sebagai khalifah fi al-ardhi (pemimpin di muka bumi).
Setiap kepemimpinan mensyaratkan kepandaian, kecerdasan, dan kebijaksanaan. Pasalnya, tanpa hal itu, akan terjadi pertikaian, permusuhan, dan bahkan pembunuhan atas nama kekuasaan kepemimpinan.
Mengasah pikiran dan batin dengan ilmu menjadi sebuah keniscayaan di tengah makin masifnya laku ketidakadilan. Ilmulah yang akan menuntun seseorang pada pilihan bijak, menjauhi kekerasan, dan memilih jalan kebajikan untuk semesta. Ilmu menjadi sinar terang bagi semua. Ilmu menjadi jalan penunjuk kebenaran yang hakiki.