Nestapa Kucing Perang

Jumat 08-05-2026,05:33 WIB
Reporter : Efatha Filomeno Borromeu Duarte
Editor : Yusuf Ridho

Saya menyebut UEA sebagai ”Kucing Perang”. 

BACA JUGA:Nilai Strategis Selat Hormuz bagi Iran dan Negara Teluk

BACA JUGA:Gema di Selat Hormuz, Getaran di Nusantara: Menakar Dampak Eksistensial Agresi terhadap Iran bagi Indonesia

Ia bukan Singa seperti Iran. Bukan Elang seperti Amerika Serikat (AS). UEA adalah kucing. Bersih. Lincah. Kalau jatuh, pasti kakinya duluan.

Strateginya: omni-alignment. Teman untuk semua. 

Beri AS pangkalan. Beli barang Tiongkok. Rangkul Israel. Tapi, tetap sediakan tempat minum kopi untuk pengusaha Iran. 

Prinsipnya satu. Selama semua orang butuh uang kita, semua orang akan menjaga kita.

Tapi, 4 Mei 2026, prinsip itu ambyar. Niatnya jualan tiket gladiator, malah ikut dilempar ke tengah arena.

BACA JUGA:Menjaga Nadi Digital di Selat Hormuz: Mengantisipasi 'Kiamat' Internet Global

BACA JUGA:Selat Hormuz, Celah Sempit yang Menentukan Geopolitik Rantai Pasok Energi Dunia

Menghitung Nasib

Mari berhitung. Ini murni soal duit.

Satu rudal Fateh-313 buatan Iran itu murah. Sekitar Rp5 miliar. 

Pesawat nirawak Shahed-136? Lebih murah lagi. Cuma Rp800 juta. 

Tidak dapat mobil mewah baru di Dubai Mall.

Namun, mereka datang bergerombol.

Kategori :